Dalam penanggulangan bencana Sumatera, saya pikir anggaran dana BNPB yang hanya Rp491 miliar dan turun drastis 75,62 persen dari outlook 2025 Rp 2,01 triliun tak cukup untuk mengatasinya.
Artinya, dengan meliburkan dana MBG sebulan, negara bisa menghemat dana triliunan. Bagaimana jika dialihkan ke subsidi tiket, perbaikan jalan, menaikkan gaji guru? Dampak positifnya sangat terpampang jelas: mudik aman, guru semangat mengajar, korupsi minim.
BACA JUGA:Uji Diskresi Program MBG
BACA JUGA:MBG, Mengawal Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045
DAMPAK NEGATIF PADA ANGGARAN PENDIDIKAN
Sebanyak Rp335 triliun (44 persen) di antara Rp757,8 triliun anggaran pendidikan 2026 dialokasikan untuk MBG, menyisakan sedikit untuk riset, beasiswa, dan infrastruktur. Ya, hanya Rp178,7 triliun untuk tunjangan guru.
Pakar UM Surabaya Achmad Hidayatullah menyoroti bahwa anggaran untuk beasiswa, kesejahteraan guru dan dosen, riset, serta infrastruktur pendidikan masih kecil.
Selain itu, guru honorer hanya digaji Rp300 ribu–Rp 2 juta per bulan, sedangkan sopir MBG bisa Rp 100 ribu per hari, apakah ini bukan bentuk dari ketimpangan sosial? Belum lagi beban administratif MBG yang menambah tugas guru tanpa peningkatan kesejahteraan.
BACA JUGA:Quo Vadis Kapasitas Kebijakan MBG
BACA JUGA:Video Siswa SD Cium MBG, Langsung Kabur: Viral Semangka Muntah
Itu akan menurunkan motivasi mengajar para guru. Bagaimana tidak, anggaran pendidikan ”murni” tersisa Rp422,8 triliun setelah MBG menggerus tunjangan dan sertifikasi guru.
ETIKA IBADAH RAMADAN, KEMASLAHATAN, DAN SENSITIVITAS MASYARAKAT YANG BERPUASA
Ramadan adalah momentum muhasabah diri bagi masyarakat muslim, puasa bareng keluarga. Ada juga yang menjemput rindu-rindu yang tertinggal di langit kampung halamannya. Ramadan bukan momen mogok puasa bagi para siswa yang ”belajar berpuasa”, bahkan MBG di bulan Ramadan ini berpotensi menyebabkan para siswa ”buka puasa diam-diam”.
Sejalan dengan itu, Ketua Guru Ngaji dan Mubaligh Indonesia Ahmad Sodiq meminta Badan Gizi Nasional (BGN) mengkaji ulang program MBG di bulan Ramadan. Ahmad menganggap bahwa MBG sensitif terhadap makna Ramadan itu sendiri. Hal tersebut ia sampaikan di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada 19 Januari 2026.
BACA JUGA:Solusi Perbaikan MBG
BACA JUGA:Lapor: Uang Makan Bergizi Gratis (MBG) Diembat