Mahasiswa juga perlu dibekali mindset kewirausahaan. Supaya ide yang lahir mampu memberi dampak ekonomi nyata.
Workshop itu pun diharapkan membuka cara pandang baru. Bahwa dunia kreatif berisi proses pemecahan masalah, inovasi, dan kolaborasi lintas disiplin.
BACA JUGA:Universitas Ciputra Sukses Gelar KDMI 2024, Berikut Daftar Para Jawara!
BACA JUGA:KDMI 2024 di Universitas Ciputra: Akreditasi Juri, Tantangan dan Pembelajaran
Langit Biru, salah seorang peserta SMA, menyebut bahwa dirinya mengikuti workshop karena ketertarikannya pada film dan editing video pendek.
“Saya suka bikin short film dan color grading. Dari workshop ini, saya dapat tambahan ilmu. Terutama soal angle kamera, movement, dan action close-up,” ucapnya.
Maulana Yusuf Wibowo dalam materinya tak hanya membahas aspek estetika. Ia mencoba meluruskan makna dari istilah "cinematic".
Peserta diajak memahami bahwa video cinematic bukan semata visual yang cantik. Melainkan bagaimana komposisi, sudut pengambilan gambar, dan story telling mendukung suasana cerita.
BACA JUGA:108 Kampus Ikut Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia di Universitas Ciputra
BACA JUGA:Hadirkan Jawara MasterChef, Taste of Australia Digelar di Universitas Ciputra
Kesalahan umum seperti pemilihan angle yang tak sesuai emosi adegan pun dibedah secara praktis dan mendalam.
“Misalnya, adegannya sedih. Tapi angle kameranya salah. Akhirnya, pesan videonya tidak tersampaikan. Jadi, lebih baik main di komposisi saja,” ujar Maulana kepada Harian Disway.
Untuk menjaga kreativitas di tengah tekanan deadline, Maulana menyarankan peserta mencari referensi. Juga memiliki role model tertentu sesuai bidang yang diinginkan.
Dari angle kamera hingga storytelling, Universitas Ciputra siapkan talenta kreatif hadapi dunia profesional.-Najwa Rana Iswari-Harian Disway
Menurutnya, pengalaman langsung seperti ikut proyek teman, freelance, hingga magang menjadi jalur tercepat untuk meningkatkan skill. “Sebagian besar kemampuan videografi dan editing saya justru saya dapat dari magang,” ungkapnya.
BACA JUGA:Tim Dosen Universitas Ciputra Rilis Buku Penguatan Identitas Kya-Kya di Surabaya