RAMADAN bukan sekadar bulan suci dalam kalender keagamaan, melainkan juga ruang kontemplasi kolektif. Sebuah ruang jeda di tengah dunia yang berlari terlampau cepat oleh ambisi ekonomi, kompetisi global, dan percepatan teknologi.
Ketika percakapan publik dipenuhi target, ranking, dan capaian statistik, Ramadan menghadirkan keheningan yang memaksa kita bertanya ulang: ke mana sebenarnya arah semua ini?
Pada hakikatnya, agama bukan sekadar seperangkat aturan formal, melainkan juga energi makna yang memberikan orientasi kehidupan. Lantaran itu, Ramadan tidak cukup dipahami sebagai ritual tahunan yang datang dan pergi tanpa jejak transformatif.
Ramadan seharusnya menjadi daya spiritual yang menggerakkan kesadaran etik, bukan hanya pada ranah personal, melainkan juga pada wilayah sosial dan institusional.
BACA JUGA:MBG saat Ramadan
BACA JUGA:Ramadan: Bebas dari Keserakahan
Di lingkungan kampus, Ramadan sering hadir dalam bentuk simbolis yang berupa: kajian rutin, buka bersama, pesan moral di media sosial, hingga dekorasi religius. Semua itu tentu penting sebagai ekspresi keberagamaan.
Namun, pertanyaan yang lebih mendasar: apakah spirit Ramadan ikut menembus ruang kebijakan? Apakah nilai puasa memengaruhi cara kita menyusun anggaran, merancang riset, mengelola aset, dan menentukan prioritas pengabdian kepada masyarakat?
Di sinilah gagasan kampus berdampak menemukan relevansinya, yakni ketika spiritualitas tidak berhenti di ruang privat, tetapi menjelma menjadi orientasi institusional.
BACA JUGA:Refleksi Ramadan: Berharap Kepemimpinan Indonesia yang Lebih Empatik
BACA JUGA:Tetap Produktif Berkarya Selama Puasa Ramadan
ETIKA PUBLIK
Keberagamaan yang matang selalu bersenyawa dengan kemanusiaan. Tauhid bukan sekadar pengakuan teologis, melainkan juga kesadaran akan kesatuan asal-usul dan tujuan hidup manusia.
Dari kesadaran itu lahir tanggung jawab moral untuk membangun tatanan sosial yang adil dan makmur serta diridai Allah SWT. Dalam perspektif Al-Ghazali (Ihya’ Ulum al-Din, 1100 M), kesadaran tauhid harus berujung pada tazkiyatun nafs, yakni penyucian jiwa yang membuahkan kemaslahatan sosial.
Ilmu tanpa akhlak pada akhirnya hanya akan menjelma menjadi kesombongan intelektual yang hampa makna.