Ramadan dan Kampus Berdampak: Dari Spiritualitas ke Aktualitas

Kamis 19-02-2026,22:32 WIB
Oleh: Machsus*

Pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan juga proses pembentukan manusia paripurna, yang sadar akan relasi dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

Semangat distribusi yang diajarkan melalui zakat, infak, dan sedekah dapat diterjemahkan dalam kebijakan yang inklusif, yakni penguatan dana pendidikan berkelanjutan, perluasan akses beasiswa bagi kelompok rentan, dan riset yang menyentuh kebutuhan riil masyarakat. 

Di sinilah insan akademis menjaga integritas ilmiah, insan pencipta menghadirkan inovasi yang relevan, dan insan pengabdi menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat.

Dalam konteks kepemimpinan, Ramadan melatih kerendahan hati. Kesadaran akan keterbatasan diri mencegah arogansi kekuasaan. Kepemimpinan akademik tidak boleh sekadar mengejar pencapaian simbolis atas angka statistik peringkat institusi, tetapi juga harus berorientasi pada kemaslahatan kolektif. 

Integritas dibangun bukan karena takut diawasi, melainkan karena sadar diawasi oleh nilai dan nurani. Konsep ihsan mengajarkan berbuat sebaik-baiknya meski tak diawasi, sebagai inti dari budaya mutu bertumbuh di kampus.

ENERGI PERADABAN

Di era kompetisi global, universitas berlomba pada ranking dan reputasi. Tidak ada yang keliru dengan itu. Namun, reputasi tanpa relevansi akan menjelma menjadi menara gading. 

Kampus berdampak bukan sekadar kampus yang produktif secara publikasi, melainkan kampus yang hadir dalam denyut kehidupan sosial. Yakni, kampus yang menjembatani laboratorium dengan lapangan, teori dengan praktik kebijakan, inovasi dengan kebutuhan rakyat. 

Akhirnya, perjalanan dari spiritualitas menuju aktualitas adalah perjalanan pembebasan. Tegasnya, pembebasan dari egoisme, dari rutinitas tanpa makna, dan dari orientasi sempit yang melupakan tanggung jawab sosial. 

Ramadan mengingatkan bahwa ilmu adalah amanah, kekuasaan adalah titipan, dan kehidupan adalah kesempatan menebar maslahat.

Jika Ramadan mampu mengokohkan lahirnya insan akademis, insan pencipta, dan insan pengabdi, kampus tidak lagi sekadar unggul secara statistik, tetapi juga bermakna secara peradaban. 

Di situlah Ramadan menemukan aktualitasnya sebagai energi transformatif yang bukan hanya kompetitif, melainkan juga kontributif bagi peradaban, melalui aktualisasi nilai rahmatan lil ’alamin dalam denyut nyata kehidupan umat dan bangsa. (*)

*) Machsus, wakil rektor II Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.

 

Kategori :