Dilema Moral bagi Guru: Menjadi Durna, Abiyasa, atau Bisma

Kamis 19-02-2026,22:43 WIB
Oleh: Warsono*

Rasa ingin tahu (bertanya) harus menjadi sikap hidupnya sehingga tidak hanya akan menambah pengetahuan, tetapi juga dapat menghasilkan pengetahuan baru. 

BACA JUGA:Guru sebagai Arsitek Peradaban

BACA JUGA:Fenomena Perceraian di Kalangan Guru: SK Diterima, Suami Dilepas

Guru memang dituntut untuk terus belajar sehingga memiliki stok pengetahuan, miminjam istilah Peter L. Berger. Pengetahuan itu tidak hanya menyangkut materi yang diajarkan, tetapi juga tentang media, metode pembelajaran, dan pengetahuan lain yang menunjang tugasnya. 

Ditiru, karena guru adalah simbol dan cermin moral dan karakter. Guru harus mampu menjadi role model bagi murid-muridnya tentang moral dan karakter. Semua itu harus ditampilkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari. 

Guru bagaikan seorang resi yang sudah tidak lagi memikirkan dunia. Ucapan dan tindakannya merupakan wujud kebijaksanaan, yang menggambarkan kebenaran, kebaikan, dan keadilan. 

Tidak ada lagi ucapan, sikap, dan perbuatan yang bisa menimbulkan kemarahan, sakit hati, atau ketidakadilan. 

Konstruksi guru sebagai resi yang menjadi role model karakter dan moral itulah yang sangat berat bagi guru. Sebab, memang mereka bukan seorang resi atau dewa, apalagi malaikat. Guru adalah manusia seperti kita yang masih terikat oleh kehidupan dunia. 

Lingkungan dunianya masih berpengaruh secara kuat kepada dirinya. Misalnya, kesejahteraan hidupnya yang berkaitan dengan gaji yang diterima, apakah secara rasional mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya?

Maski, ada yang mengatakan (penulis) bahwa gaji guru itu ada tiga, yaitu rupiah yang diterima setiap bulan dari pemberi kerja, pahala dari Allah, dan doa dari murid. Dari tiga gaji tersebut, yang paling riil dan langsung dirasakan adalah gaji berupa uang. 

Pahala dari Allah belum bisa diketahui karena manusia hanya bisa berharap, tetapi tidak memiliki hak untuk menuntut. Itu pun baru akan diterima setelah meninggal dunia. 

Begitu pula gaji yang berupa doa dari murid, guru juga tidak dapat menuntut kepada semua muridnya. Guru hanya bisa berharap dan itu pun belum tentu semua muridnya mendoakan dan belum tentu doa muridnya dikabulkan Allah. 

Bagimanapun, gaji rupiah yang diterima setiap bulan menjadi ”lingkungan” yang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku guru. Jika guru tidak bisa membayar biaya sekolah atau kuliah anaknya, apakah mereka akan bisa mengajar dengan tenang dan menjadi pembelajar? 

Kalau guru terus dalam ketakutan dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik, apakah bisa melakukan tugasnya dengan baik? Sementara statusnya sebagai guru dituntut  menjalankan peran sebagai resi: orang yang bijak dan tidak membutuhkan dunia. 

Guru sering dihadapkan pada persoalan status dan peran. Statusnya sebagai pendidik menuntut peran sebagai resi untuk melahirkan kesatria-kesatria yang mempu membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan. 

Dalam konteks bernegara, mereka mampu melahirkan  sumber daya pembangunan dan calon-calon pemimpin bangsa yang memiliki kecerdasan intelektual, sosial, dan moral. Namun, tugas itu juga harus disertai dengan kedisiplinan dan keteguhan hati serta niat baik dari para murid yang memang benar ingin menjadi kesatria. 

Kategori :