Memaknai Puasa dari Keteladanan Rabi’ah al-Adawiyah, Sufi Pelopor Cinta Ilahi

Senin 23-02-2026,09:00 WIB
Reporter : Salsabila*
Editor : Guruh Dimas Nugraha

Dalam berbagai kisah, Rabi'ah digambarkan sering berdoa, “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, jauhkanlah aku darinya. Namun jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu, maka jangan Engkau palingkan aku dari keindahan-Mu.”

Ungkapan tersebut menjadi simbol spiritualitas mendalam. Bahkan pada masa kini, masih banyak yang mengutip doanya itu. Pun, mencontoh keteladanannya.

BACA JUGA:Fenomena War Takjil Ramadan 2026 dan Dampaknya bagi UMKM

BACA JUGA:Ramadan dan Kampus Berdampak: Dari Spiritualitas ke Aktualitas

Di tengah dinamika kehidupan modern, nilai-nilai yang diajarkan Rabi’ah al-Adawiyah kembali menjadi refleksi bagi umat Muslim.

Ramadan tak semata momentum ritual tahunan. Tetapi kesempatan memperbaiki niat dan memurnikan tujuan ibadah.

Banyak pengkaji tasawuf menilai, pendekatan cinta yang diajarkan Rabi’ah mampu menghadirkan keseimbangan. Antara ibadah lahiriah dan kedalaman batiniah.

Di saat banyak orang fokus pada aspek formal ibadah, pesan sufistik itu mengingatkan pentingnya kualitas hati.

BACA JUGA:Ramadan, Said Abdullah Salurkan Zakat Mal ke Ribuan Jemaah Tarawih di Sumenep

BACA JUGA:Lengkap! Bacaan Niat Ibadah Ramadan: Mulai Sahur, Berbuka, Salat Tarawih, Witir, hingga Zakat


Rabi’ah al-Adawiyah mengajak generasi muda memaknai puasa dengan keikhlasan, memperbanyak doa dan zikir sebagai wujud cinta Ilahi.-sajahayajneh-pinterest

Kisah Rabi’ah al-Adawiyah juga relevan bagi generasi muda. Khususnya mereka yang tengah mencari makna spiritualitas di era digital.

Keteladanannya menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran besar dalam sejarah tasawuf. Juga perkembangan pemikiran Islam.

Ramadan pun menjadi waktu yang tepat untuk meneladani semangatnya. Beribadah dengan penuh kesadaran, kesungguhan, dan cinta.

Spirit itulah yang menjadikan Ramadan bukan sebagai perjalanan. Menuju kedekatan sejati dengan Allah.(*)

*) Mahasiswa magang dari Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, UINSA.

Kategori :