Mikroplastik Mengintai Kita (2): Masih Banyak yang Tak Tahu

Senin 23-02-2026,17:53 WIB
Reporter : Ilmi Bening
Editor : Doan Widhiandono

Data penelitian ECOTON dan Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa wilayah Surabaya mengandung mikroplastik dengan konsentrasi paling tinggi. Sayangnya, tidak semua warga menyadari kehadiran partikel berukuran mikroskopis itu. Bahkan hewan, plankton, dan tumbuhan pun turut terdampak.

DAERAH sekitar Gubernur Suryo dan Pakis Gelora, yang memiliki konsentrasi mikroplastik paling tinggi.  Harian Disway pun datang ke tempat tersebut pada 12 Februari 2026 untuk memastikan kesadaran masyarakat tentang hadirnya pencemaran mikroplastik di sekitar mereka dan gangguan kesehatan yang dialami dalam waktu dekat ini.

Kondisinya memang ramai dengan lalu lalang kendaraan. Meski taman kota terlihat sering dibersihkan oleh petugas, kemunculan sampah tidak bisa dihindari. Setiap hari, para pelajar maupun pekerja sering melintas dan membeli jajanan di tepi jalan yang berada di dekat Taman Apsari. 

Jarang ada orang yang mengenakan masker di area sekitar taman itu. Ada keranjang sampah khusus untuk menaruh botol plastik. Namun, ada saja pembeli yang membuang sampah botol, serta plastik bekas makanan dan minuman sembarangan di dekat area pedagang kaki lima.

BACA JUGA:Mikroplastik Mengintai Kita (1): Kadar di Surabaya Paling Tinggi

BACA JUGA:5 Alat Dapur Mengandung Mikroplastik, Bahaya Kesehatan Mengintai

“Setiap jam istirahat kantor di tengah hari dan saat anak-anak sekolah dekat sini sedang berolahraga itu jadi waktu yang paling ramai. Pelajaran olahraga mereka biasanya jam 8 pagi,” ujar salah seorang penjual dengan tangan yang sibuk mewadahi produk ke kantong kresek.

Selaras dengan lokasi Pakis Gelora, setiap hari banyak orang berjualan, kendaraan berlalu-lalang, dan dekat permukiman. Tumpukan sampah menggunung di salah satu sudut Pasar Pakis. 

Layaknya pasar tradisional lainnya, bau kurang sedap pun menyebar di sekitar sana. Tak jauh dari lokasi Pasar Pakis, tepatnya di seberang jalan, terdapat perkampungan. Beberapa warga pun mengerti, kalau sering ada debu di area sekitar pasar itu. 

Meski begitu, tidak banyak orang tahu tentang mikroplastik yang mengintai mereka lewat udara. Gangguan kesehatan akibat mikroplastik memang tidak bisa dilihat dari gejala secara fisik atau tampak luar. 


SAMPAH PLASTIK bekas pembelian para pengunjung yang berserak di kawasan Taman Apsari, Surabaya.-Khanza Pandya-Harian Disway-

Selain itu, perubahan cuaca juga dapat memengaruhi kesehatan. Tidak semua gejala penyakit diakibatkan mikroplastik. “Saya tidak tahu. Memang dalam waktu dekat ini mengalami batuk dan pilek tetapi saya pikir wajar karena memang sedang musim hujan,” kata salah seorang warga yang saat itu membersihkan teras rumahnya pada sore hari.

Penjual yang berjualan setiap hari di pasar juga merasakan gangguan pernapasan, seperti sesak napas. Namun, dia menganggap itu hanya terjadi jika merasa kelelahan. “Saya pikir itu sudah biasa. Kalau dibilang sering batuk pilek, sepertinya tidak. Biasa saja,” ucap salah seorang penjual Pasar Pakis yang berada di tepi jalan raya.

Padahal, menurut Dr. Lestari Sudaryanti dr., M.Kes yang melakukan penelitian identifikasi mikroplastik pada pekerja pemilah sampah di tiga lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA), mikroplastik yang terhirup bisa masuk ke saluran napas, lalu ke alveoli. Pernapasan pun terganggu.

“Mikroplastik juga bisa masuk ke tubuh lewat pencernaan. Bisa melalui penggunaan plastik sekali pakai untuk makanan panas. Panas menyebabkan polimer plastik terurai menjadi partikel mikroskopis yang tercampur dalam makanan,” imbuhnya ketika dihubungi Harian Disway pada 9 Februari 2026. 

Kategori :