BACA JUGA:Air Hujan Surabaya Tercemar Mikroplastik, Eri Minta Warga Berhenti Bakar Sampah
BACA JUGA:BRIN Gandeng Kampus Teliti Hujan Mikroplastik di Surabaya
“Proses edukasi warga untuk memilah sampah tidak sebentar. Sudah berjalan sekitar 3 tahun. Edukasi dimulai dengan kerja bakti dan memilah sampah di masing-masing pos warga,” jelas Ika.
Sejumlah contoh produk kerajinan yang saat ini terpajang di Bank Sampah Pondok Manggala. Misalnya, bunga dan anting dari botol plastik, kalung dari ring tutup botol yang dirajut, tas dari kantong kresek atau bibir gelas minuman plastik, celengan dari kaleng bekas keripik, yang dihias kain flanel, serta dompet dari bungkus mi instan.
Selain Kampung Iklim, di Surabaya, sudah ada gerakan menggunakan popok dan pembalut reusable oleh brand Bumbi. Sang founder, Celia Siura, berangkat dari keprihatinan pada melimpahnya sampah popok dan pembalut sekali pakai di Sungai Brantas.
Berdasar riset bertajuk Studi Awal Distribusi Mikroplastik di Anak Sungai Brantas, sampah popok juga merupakan salah satu penyumbang mikroplastik di Sungai Brantas. Mitos suluten, menurut Celia, turut menjadi penyebab dalam meningkatnya sampah popok.
KOTAK SEDEKAH SAMPAH yang tersebar di perkampungan Pondok Manggala Surabaya.-Najwa Rana-Harian Disway-
“Kepercayaan itulah yang membuat orang tua enggan membuang sampah popok ke tempat sampah (TPA). Karena khawatir mitos bayi mereka akan mengalami ruam atau iritasi kulit,” papar Celia dalam kegiatan Peluncuran Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) Chapter Surabaya di Graha Sawunggaling, 22 Januari 2026.
Akibatnya, banyak keluarga membuang popok tersebut ke sungai. Akhirnya, pada 2021, Celia mulai menggalakkan produk popok dan pembalut. Dia bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya. Produk tersebut masih dijual sampai saat ini melalui toko online. Ada juga yang dibagikan lewat Posyandu dan rumah sakit.
“Produk ini sangat awet. Bisa bertahan hingga 5 tahun. Bahkan bisa digunakan turun-temurun sampai ke adik-adiknya. Kami membuatnya dengan bahan katun berkualitas,” ungkapnya kepada Harian Disway.
Upaya mengurangi mikroplastik tak sampai di situ. Sebab, mikroplastik juga bisa disebabkan oleh pakaian berbahan poliester yang dipakai dalam kegiatan sehari-hari atau limbah pakaian dari kain berbahan sintetis.
BACA JUGA:Air Hujan di Surabaya Tercemar Mikroplastik
BACA JUGA:Waspada! 7 Bahaya Tersembunyi Mikroplastik bagi Kesehatan Manusia yang Perlu Diketahui
Maka, muncul program Kainku yang diinisiasi oleh Bank Sampah Induk Surabaya di Jalan Raya Menur No.31-A, pada September 2025. Mereka menampung limbah kain. Masyarakat bisa menyetorkan limbah kain melalui penjemputan, setor mandiri, atau layanan pengiriman barang seperti Go-Send.
“Limbah kain tersebut nantinya didaur ulang oleh PT. Panjimas Textile, pabrik benang pel dan sarung tangan. Mayoritas masyarakat umum, mulai dari mahasiswa hingga ibu rumah tangga, yang setor ke Bank Sampah ini,” kata M. Rian Fauzi, Marketing Bank Sampah Induk Surabaya, 18 Februari 2026.
Penyetor limbah kain wajib membayar Rp10 ribu per kilogram. Sebab, ada dana tambahan untuk biaya operasional perusahaan dalam mengolah kain-kain bekas.