Anak Miskin Telantar dan Refleksi Hadirnya Ramadan

Senin 23-02-2026,22:09 WIB
Oleh: Teguh Imami*

Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang rentan sering kali tidak memiliki jejaring dukungan, akses ke informasi, dan rasa percaya diri untuk berinteraksi dengan lembaga formal seperti sekolah. Mereka mudah tersisih jika tidak memiliki lingkungan yang mendukung. 

Beberapa penelitian tentang kekerasan terhadap anak menunjukkan bahwa ruang tertutup sering menjadi tempat kekerasan terjadi. 

Anak-anak yang terjebak dalam kekerasan atau tekanan ekonomi jarang berbicara karena mereka takut, malu, atau tidak tahu ke mana harus mengadu. Kerentanan di RT/RW sekolah dapat berkembang menjadi bencana jika tidak ada sistem deteksi dini.

REFLEKSI DATANGNYA RAMADAN

Bulan suci mengajarkan kita untuk saling membantu. Ibadah menciptakan hubungan vertikal dengan Tuhan serta hubungan horizontal yang menjamin bahwa orang yang lemah tidak diabaikan. 

Zakat bahkan dimaksudkan sebagai alat sosial untuk mempertahankan keseimbangan dan mencegah ketimpangan ekstrem dalam tradisi Islam.

Karena itu, Ramadan seharusnya mendorong pergeseran dari kebaikan individu ke kebaikan sosial. Dari bantuan sesaat ke ekosistem kepedulian. 

Mungkin tidak menyelesaikan semua masalah kemiskinan dalam satu bulan, tetapi kita bisa mulai membangun hubungan yang lebih kuat antara keluarga, sekolah, komunitas, dan lembaga sosial. 

Negara memainkan peran penting. Meski demikian, kehadiran negara tidak cukup dimaknai sebagai penyediaan bantuan atau program yang bersifat sementara. Negara harus membuat kebijakan dan sistem untuk memastikan setiap anak memiliki tempat tinggal. 

Kehadiran negara harus membuat sistem perlindungan anak tidak boleh berfungsi hanya setelah kecelakaan terjadi, tetapi harus memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi potensi masalah sejak dini. 

Pemerintah daerah harus memiliki sistem pelaporan yang mudah diakses bagi anak-anak dan masyarakat umum. 

Anak-anak tidak hanya membutuhkan uang. Mereka juga membutuhkan rasa aman dan jaringan sosial yang memberi mereka arti dalam hidup. Ramadan memiliki makna yang lebih dalam daripada hanya menghentikan lapar dan memastikan bahwa tidak ada anak yang menderita sendirian. (*)

*) Teguh Imami adalah dosen dan peneliti utama Thinkleap Indonesia.

 

Kategori :