Ketika Negara Terlambat Hadir di Bangku Sekolah Siswa

Selasa 24-02-2026,21:45 WIB
Oleh: Sukarijanto*

KABAR tentang seorang siswa sekolah dasar yang memilih mengakhiri hidup karena tak mampu membeli alat tulis bukan sekadar berita duka. Ia adalah tamparan etis bagi negara, masyarakat, dan sistem sosial yang kita banggakan. Di balik kisah pilu itu, tersembunyi persoalan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar ketiadaan uang: kemiskinan martabat, empati, dan kehadiran negara. 

Peristiwa semacam itu terasa ganjil, bahkan tak masuk akal, karena melibatkan anak di bawah usia 17 tahun. Dalam banyak budaya Nusantara, bunuh diri anak merupakan kejadian langka. Namun justru karena kelangkaannya, tragedi ini menyingkap retakan serius dalam ekosistem sosial kita. Ada sesuatu yang gagal bekerja.

Bagi anak-anak, kemiskinan tidak dibaca sebagai “masalah struktural”. Ia dialami sebagai kesalahan personal. Tidak punya alat tulis bukan sekadar kekurangan barang, melainkan simbol kegagalan di hadapan teman sebaya. Ketika sekolah, yang seharusnya menjadi ruang aman, berubah menjadi panggung perbandingan sosial, rasa malu menjelma beban psikologis yang berat. 

BACA JUGA:Menilik Kebijakan soal Air Minum Dalam Kemasan: Jangan Hanya Taat Standar, Negara Harus Hadir

BACA JUGA:Mengadili Mens Rea: Komedi, Kritik Politik, dan Ketakutan Negara

Di titik inilah, kemiskinan bekerja secara berlapis; ekonomi, sosial, dan psikologis. Anak belum memiliki perangkat kognitif untuk memaknai ketimpangan sebagai hasil struktur. Yang ada hanyalah perasaan tidak pantas, tertinggal, dan sendirian.

Masalahnya diperparah oleh budaya sosial yang sering memuja prestasi dan kepemilikan, namun miskin empati. Anak dinilai dari kelengkapan atribut, seragam, buku, alat tulis, bukan dari keberanian belajar. Bahkan tanpa ejekan verbal, tatapan, bisik-bisik, atau perlakuan berbeda cukup untuk melukai. 

Luka itu sunyi, tapi menumpuk. Di sinilah kita perlu jujur: masyarakat kita kerap mengagungkan moralitas simbolis, namun lalai pada moralitas praktis, yakni keberpihakan nyata pada yang rapuh.

BACA JUGA:Sudah Mati pun Masih Hidup di Data Negara, Masalahnya di Mana, Apa Dampaknya?

BACA JUGA:Psikologi untuk Keadilan: Menyatukan Nalar, Nurani, dan Negara

Banyak siswa menghadapi masalah sendirian. Guru terjebak beban administrasi, orang tua terimpit ekonomi, tetangga sibuk bertahan hidup. Ketika tidak ada satu pun orang dewasa yang benar-benar hadir, keputusasaan menemukan jalannya sendiri.

Pendampingan bukan soal niat baik semata, melainkan desain sistem. Tanpa mekanisme deteksi dini dan respons cepat, tragedi menjadi soal waktu.

Penguatan aspek keagamaan, seperti pembentukan karakter religius, lintas iman, dapat menjadi penyangga batin, bukan solusi tunggal, tetapi fondasi makna. Kebiasaan sederhana seperti berdoa sebelum berangkat sekolah atau sebelum tidur menanamkan rasa berharga dan harapan. 

BACA JUGA:Negara Harus Hadir untuk Pesantren

BACA JUGA:Masyarakat Tak Bernegara: Menilik Ironi Kedaulatan dalam Republik

Kategori :