Komunitas religi sebagai jejaring perlindungan: beasiswa mikro, mentoring, dan ruang aman bercerita. Negara hadir hingga kebutuhan paling sepele: memastikan tidak ada anak yang terhalang sekolah karena hal dasar.
Tragedi siswa bunuh diri adalah alarm keras. Ukuran kemajuan bangsa bukan hanya angka ekonomi, melainkan seberapa aman seorang anak miskin berjalan ke sekolah tanpa takut dipermalukan, dan seberapa sigap orang dewasa berjalan di sampingnya.
Harapan tumbuh ketika keadilan sosial memberi tanah yang subur. Indonesia memiliki modal besar: nilai kemanusiaan lintas iman dan gotong royong. Jika sekolah, komunitas, dan pemerintah berjalan bersama, dengan redistribusi yang tepat dan monitoring yang presisi, rasa malu dapat digantikan rasa aman, dan keputusasaan oleh pendampingan.
Dengan demikian, tragedi ini bukan semata soal kemiskinan individual, melainkan kegagalan negara menjalankan mandat redistribusi secara substantif. Redistribusi yang sejati bukan sekadar memindahkan uang, melainkan menghadirkan rasa aman, martabat, dan harapan, terutama bagi anak-anak yang seharusnya dilindungi paling awal dan paling kuat. (*)
*) Sukarijanto, adalah pemerhati kebijakan publik dan peneliti di Institute of Global Research for Economics, Enterpreneurship, & Leadership.