Uzbekistan dan Pelajaran Strategis bagi Industri Pariwisata Indonesia

Jumat 27-02-2026,14:28 WIB
Oleh: Ulul Albab*

Bagi dunia Islam, fenomena itu membawa pesan penting. Pertama, ziarah tidak harus dimaknai sempit sebagai perjalanan ritual, tetapi dapat menjadi ruang dialog peradaban yang produktif. 

Kedua, negara-negara dengan warisan sejarah Islam memiliki peluang besar untuk membangun diplomasi budaya yang lebih inklusif. 

Ketiga, keberhasilan Uzbekistan menunjukkan bahwa strategi pariwisata berbasis identitas tidak harus bertentangan dengan modernitas, justru keduanya dapat saling menguatkan.

Dalam konteks Indonesia, pengalaman Uzbekistan menawarkan refleksi strategis. Industri perjalanan religius di Indonesia selama ini lebih berorientasi pada ibadah haji dan umrah. Padahal, potensi pengembangan wisata ziarah berbasis sejarah Islam Nusantara masih sangat luas. 

Diplomasi pariwisata Uzbekistan memberikan pelajaran bahwa narasi sejarah yang kuat, jika dikelola secara profesional, mampu menciptakan positioning global yang unik dan berkelanjutan.

Pada titik itu, saya ingin mengatakan bahwa kebangkitan Uzbekistan sebagai destinasi ziarah dunia Islam bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan juga sebuah upaya membangun kembali kesadaran historis umat. 

Jalur Sutra yang dahulu menjadi simbol pertukaran peradaban kini dihidupkan kembali dalam bentuk yang lebih modern: diplomasi pariwisata yang elegan, inklusif, dan sarat makna spiritual. 

Di tengah dunia yang makin terfragmentasi, pendekatan itu mengingatkan kita bahwa perjalanan bukan hanya soal destinasi, melainkan tentang merajut kembali ingatan kolektif dan identitas bersama.

Maka, Uzbekistan bukan sekadar negara tujuan wisata. Uzbekistan sedang menulis ulang perannya sebagai jembatan peradaban Islam. Sebuah diplomasi halus yang bergerak melalui langkah-langkah para peziarah. Patut menjadi pelajaran berharga bagi pengembangan sektor pariwisata kita di Nusantara. (*)

 

Kategori :