Ini tragedi rumah tangga. Anak laki-laki MAH, 15, tersangka pembunuh kakaknya, Muhammad Ammar Robbani, 22, di rumah mereka, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa, 24 Februari 2026. Alat bunuh palu besi. Kepala korban remuk. Ibunda mereka, Nurul Arifah, mengatakan bahwa sumber tragedi itu perceraiannyi dengan suami.
PEMBUNUHAN ini berlangsung sangat cepat. Tak sampai semenit sejak pelaku dan korban cekcok. ”Kejadiannya cepat sekali. Saya di dekat mereka saat kejadian, tapi tak mampu melerai,” kata Nurul, sedih.
Suatu kejadian tidak akan muncul tiba-tiba. Selalu punya latar belakang. Dan, latar belakang pembunuhan itu sungguh memilukan hati semua orang.
Nurul kepada wartawan, Kamis, 26 Februari 2026, menceritakan, ”rumah tangga kami sekarang sudah berantakan. Dulu, sebelum tahun 2022, keluarga kami harmonis. Semuanya berlangsung baik. Sekarang benar-benar hancur.”
Keluarga itu tinggal di rumah cukup bagus di jalan Puskesmas, Kelapa Gading Timur, Jakarta Utara. Menurut tetangga, keluarga itu taat beribadah. Dua anak mereka lulusan pesantren saat masih ibtidaiyah. Mereka sekeluarga rajin salat di masjid.
Ammar kuliah di Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Jakarta. Ia ketua umum Hipmi PT (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi) Universitas Al Azhar periode 2025/2026. Ia sudah skripsi. Tahun ini ia bakal lulus, diwisuda. Sementara itu, MAH pelajar SMP.
Ketika keluarga mereka bahagia, pada 2022 suami Nurul (tak disebut nama) selingkuh dengan seorang janda anak satu. Lama-lama Nurul tahu. Mereka cekcok. Akhirnya cerai.
Itulah awal mula keluarga tersebut terpuruk. Sebab, sang mantan suami tidak menafkahi dua anaknya (pelaku dan korban) lagi. Ia pilih menafkahi anak janda selingkuhannya.
Itu membuat Nurul berjuang keras mencari nafkah. Kebutuhan biaya anak-anak sedang tinggi-tingginya. Namun, tidak bisa mengatasi itu meski hidup berhemat.
Di sisi lain, dua anak itu jadi pemarah. Mereka sering marah ke ayah, komunikasi lewat HP. Akibatnya, sejak Agustus 2025 si ayah memblokir nomor HP anak-anak dan mantan istrinya. Tempat tinggal baru si ayah juga tak ditemukan anak-anak. Komunikasi ayah-anak putus total.
Anak-anak beralih marah kepada ibu. Terutama si bungsu MAH. Ia benci kepada kakak yang selalu minta uang kepada ibu untuk keperluan kuliah. Sebaliknya, si bungsu merasa tak pernah minta uang kepada ibu yang pontang-panting mencari nafkah. MAH iri, kakaknya sering minta duit ke ibu.
Nurul: ”Sebenarnya saya berusaha bersikap adil. Uang yang diminta si abang lebih banyak karena ia kuliah dengan kebutuhan yang lebih besar daripada adiknya yang masih SMP.”
Malah, Nurul lebih perhatian kepada si bungsu karena sakit. MAH mengidap sakit lambung kronis. Dokter menyatakan, MAH mengidap infeksi helicobacter pylori atau tukak lambung. Jadi, Nurul sangat memperhatikan makanan MAH.
Namun, namanya anak-anak selalu berusaha menuntut lebih dari ortu. Anak-anak selalu berhitung detail, seberapa uang yang ia terima dari ortu, dibandingkan dengan saudaranya. Seperti kata Nurul, biaya kuliah Ammar jauh lebih besar daripada MAH. Itu membuat MAH memendam iri.
Beberapa bulan belakangan, Ammar dan MAH tidak saling komunikasi.