Simak Kisah Abang Bunuh Adik di Kelapa Gading, Jakarta: Akibat Grey Divorce

Sabtu 28-02-2026,14:17 WIB
Oleh: Djono W. Oesman

Istilah perceraian abu-abu dipopulerkan sosiolog Susan L. Brown dan I-Fen Lin dari Bowling Green State University di Bowling Green, Ohio, AS, melalui riset pada 2012 bertajuk The Gray Divorce Revolution. Ketika itu jumlah grey divorce di sana terus naik.

Dikutip dari BBC, 13 September 2025, berjudul Was it all smoke and mirrors? How adult children are affected by grey divorce, karya Molly Gorman, diulas soal data grey divorce di AS.

Diungkapkan, AS salah satu negara dengan tingkat perceraian tertinggi di dunia meski selama empat dekade terakhir, angka tersebut telah menurun di kalangan pasangan muda. 

Sebaliknya, pasutri paruh baya dan lanjut usia telah mengambil alih posisi tersebut. Bahkan, orang dewasa berusia 65 tahun ke atas kini menjadi satu-satunya kelompok usia di AS yang mengalami peningkatan angka perceraian. Untuk kelompok usia di atas 50 tahun, angka perceraian juga meningkat selama beberapa dekade, tetapi sekarang telah stabil.  

Pada 2025 sekitar 36 persen pasangan bercerai berusia 50 tahun ke atas, dibandingkan dengan 8,7 persen pada tahun 1990. Hal itu dikenal sebagai grey divorce.

Itu terjadi karena berbagai alasan. Menurut beberapa penelitian, pertama, umur manusia kini lebih panjang daripada sebelumnya, dan pasangan yang lebih tua mungkin kurang bersedia untuk bertahan dalam pernikahan yang tidak memuaskan.

Sementara itu, kaum muda menikah di usia yang lebih lanjut dan menjadi lebih selektif dalam memilih pasangan. Seorang peneliti mengatakan, ”Amerika Serikat sedang menuju sistem di mana pernikahan lebih jarang dan lebih stabil daripada di masa lalu.”

Meningkatnya grey divorce juga terjadi di beberapa negara.

Ungkapan khas Korea: pernikahan seharusnya berlangsung ”sampai rambut hitam menjadi akar bawang hijau”. Artinya, sampai salah satunya mati. Atau komitmen seumur hidup. 

Namun, sejak 2000-an, makin banyak orang tua di Korea yang bercerai hwang-hon alias perceraian usia senja.

Usia harapan hidup rata-rata di Korea lebih dari 80 tahun untuk pria dan wanita. ”Mereka yang berusia 50-an dan 60-an masih mengharapkan 30 atau 40 tahun lagi untuk hidup, dan perceraian di usia lanjut dapat menawarkan kesempatan untuk babak baru dalam hidup,” kata riset tersebut. 

Jepang juga mengalami peningkatan grey divorce sejak 1990. Kini perceraian pada usia lanjut di sana mencapai 22 persen dari semua perceraian di sana.

Di tengah tren itu, para ahli keluarga khawatir. Dampak buruk grey divorce sangat dalam dan luas pada anak-anak yang sudah remaja maupun dewasa. Dampaknya beragam. Masih diteliti.

Grey divorce pada keluarga Nurul berakibat akhir pembunuhan itu. Sumbernya selingkuh. Lebih spesifik, laki-laki pemburu kenikmatan seks dengan perempuan bukan istrinya. Ternyata bahaya. (*)

Kategori :