Pertama, tidak puas hubungan dengan istri. Sekitar 30 persen pria dalam penelitian itu mengaitkan perselingkuhan mereka dengan ketidakbahagiaan dalam hubungan mereka –menjadikannya alasan yang paling banyak didukung untuk berselingkuh.
Salah satu peserta berbagi, ”saya sangat tidak bahagia dalam hubungan itu. Saya merasa seolah-olah saya tidak punya pilihan lain selain keluar.”
Menariknya, alasan itu mirip dengan temuan penelitian tentang wanita, yang juga melaporkan ketidakpuasan dalam hubungan sebagai alasan utama mereka untuk berselingkuh.
Kedua, selingkuhan lebih menarik daripada pasangan sendiri. Terlepas dari dangkalnya alasan itu, para penulis studi menjelaskannya secara logis dari perspektif evolusi.
Menurut para peneliti, ”akan masuk akal jika pria memprioritaskan daya tarik fisik wanita, yang dapat memicu kesuburan dan gen yang baik.”
Dengan cara tersebut, mungkin saja pria secara naluriah terdorong untuk mencari pasangan yang menunjukkan tanda-tanda kesuburan dan kesehatan meskipun dorongan itu tidak disadari secara sadar.
Sebanyak 16 persen pria menyebut daya tarik fisik pasangan selingkuh mereka sebagai motivasi utama untuk berselingkuh. Angka itu hampir tiga kali lebih tinggi daripada alasan perselingkuhan istri.
Salah seorang peserta mengungkapkannya secara blak-blakan, menjelaskan bahwa ”atribut fisik orang tersebut yang tidak dimiliki pasangan saya saat inilah” yang akhirnya mendorong mereka untuk berselingkuh.
Ketiga, pelaku ingin sesuatu yang tidak didapat dari pasangan. Sekitar 14 pria yang selingkuh mengatakan hal itu sebagai alasan selingkuh. Angka tersebut hampir lima kali lebih tinggi daripada 3 persen wanita berselingkuh untuk alasan yang sama.
Di luar tiga alasan tersebut, banyak variasi alasan lainnya. Namun, mirip dengan tiga alasan tersebut.
Seorang pria, ketika ditanya tentang perselingkuhannya, menjelaskan, ”saya tidak tahu apakah saya benar-benar ingin bersama pasangan saya dan hanya mencoba untuk mengeksplorasi pilihan lain.”
Pria lain mengakui, dengan agak malu-malu, ia berselingkuh hanya karena ”saya ingin menikmati masa muda saya selagi masih muda”.
Secara keseluruhan, jelas bahwa kebutuhan akan kehidupan seks yang menarik dan rasa variasi serta kesenangan dalam hubungan sangat penting bagi pria. Perasaan terus-menerus bahwa masih banyak hal yang bisa dialami di luar sana –baik secara seksual maupun lainnya– dapat secara bertahap mengikis komitmen mereka kepada pasangan resmi.
Berdasar riset tersebut, peselingkuh paham alasan ia berselingkuh. Semestinya mereka juga paham risikonya. Mulai risiko paling ringan sampai kemungkinan terjadi pembunuhan. Itulah harga perselingkuhan.
Di kasus Cikarang, polisi mengandalkan cerita tersangka tentang motif pembunuhan. Keterangan tersangka belum tentu sesuai kenyataan. Namun, mustahil dikonfirmasi karena korban sudah meninggal.
Seandainya cerita tersangka itu benar, korban memosisikan dirinyi dalam bahaya besar. Korban seolah tidak menyadari bahwa tindakannyi itu menggiringnyi ke kematian.