Pembunuhan Brutal di Dusun Seriwang, Lampung: Akibat Dendam Kesumat

Selasa 03-03-2026,23:53 WIB
Oleh: Djono W. Oesman

BACA JUGA:Pembunuhan Pria di Cilincing Diungkap Polisi: Mati karena Berebut Cewek

BACA JUGA:Pembunuhan dengan 78 Tikaman di Lampung: Dulu Pelaku Jadi Korban

Namun, peluru PCP berupa timah berukuran 4,5 milimeter. Kecil. Maka, saat Alim menembak kepala Resa, peluru masuk ke bawah kuping. 

Resa masih berusaha lari. Namun, cuma dua-tiga meter ia tumbang. Saat itu pelaku mengeluarkan golok ukuran 30 sentimeter. Mungkin, ia tak yakin tembakan itu mematikan. Maka, saat Resa tertelungkup di tanah, leher belakangnya ditebas golok. Tak puas, pelaku membalikkan badan korban, menggoroknya.

Bagaimana reaksi ayah korban?

Rudy: ”Saksi mengatakan, saat saksi memotong rumput, ia curiga karena mesin pemotong rumput (yang digunakan korban, Red) mendadak berhenti. Saksi tidak bisa melihat korban, terhalang ilalang. Lalu, saksi mendatangi korban. Saksi tidak tahan melihat kondisi anaknya itu.”

Saat itu pelaku kabur. Namun, identitas pelaku dikenali saksi. Kejadian tersebut dilaporkan warga ke polisi. Setelah polisi mengolah TKP dan meminta keterangan para saksi, polisi mengejar pelaku.

Rudy: ”Pelaku kami tangkap di rumah orang tuanya di Prabumulih (Sumatera Selatan, Red) malam itu juga. Atau, belum 12 jam dari saat pembunuhan.”

Motifnya dendam lama. Cuma itu yang dikatakan tersangka kepada polisi. Belum diungkap latar belakang penyebab dendam. Alim dijerat Pasal 459 KUHP, pembunuhan berencana. Ancaman maksimal hukuman mati.

Dendam bagai bara api di dalam batang kayu. Membara, tapi tak kelihatan.

Dikutip dari BBC News, 3 April 2017, berjudul The hidden upsides of revenge, karya Melissa Hogenboom, disebutkan, pelampiasan dendam sangat bahaya. Pelaku bisa brutal terhadap korban. Sebaliknya, bagi pelaku, itu bisa sangat memuaskan.

Balas dendam bagian dari perilaku manusia hampir selama kita ada di bumi. Sepanjang sejarah, karya sastra kuno banyak mengungkap tentang balas dendam.

Mulai tragedi Yunani seperti trilogi Oresteia karya Aeschylus (Orestes ingin membunuh ibunya untuk membalas dendam atas kematian ayahnya) hingga Hamlet karya William Shakespeare.

Banyak dari kita pasti pernah membayangkan balas dendam terhadap orang-orang yang telah menyakiti kita atau bahkan melampiaskan kemarahan kepada mereka. 

Pada saat itu, hal tersebut tentu terasa melegakan bagi pelaku. 

Apa yang memotivasi kita untuk membalas dendam? Para peneliti secara bertahap mendapatkan beberapa jawaban.

Kategori :