Berebut Uang Warisan Makan Nyawa di Lubuklinggau: Antara Warisan dan Fee

Berebut Uang Warisan Makan Nyawa di Lubuklinggau: Antara Warisan dan Fee

ILUSTRASI Berebut Uang Warisan Makan Nyawa di Lubuklinggau: Antara Warisan dan Fee.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Pembunuhan motif warisan, merenggut nyawa Sugiansyah, 36. Ia diduga dibunuh adik sepupu Farij Pardian, 26, di Lubuklinggau, Sumsel, Jumat, 10 April 2026, bermotif warisan. Tepatnya, kombinasi berebut warisan dengan fee transaksi.

BEREBUT warisan, salah satu konflik keluarga yang panas. Jika tak diredam, konflik bisa mengakibatkan pembunuhan. Ini salah satu kejahatan tertua manusia.

Kapolres Lubuklinggau AKBP Adithia Bagus Arjunadi kepada wartawan, Sabtu, 11 April 2026, mengatakan, TKP di Jalan Rawa Makmur, RT 05, Kelurahan Batu Urip, Kecamatan Lubuklinggau Utara II, Kota Lubuklinggau. ”Itu rumah milik korban yang sedang dibangun,” katanya.

Setelah pembunuhan, istri korban Ria, 31, lapor polisi. Saat tim polisi mendatangi TKP, korban Sugiansyah sudah dilarikan ke RS Bunda, Lubuklinggau, tapi meninggal di tengah jalan. Berdasar pemeriksaan saksi-saksi, pelaku empat orang masih keluarga korban. ”Pelaku kami tangkap malam itu juga,” kata Adithia.

Konstruksi perkara, Sugiansyah ahli waris harta warisan, sebidang tanah, dari ortunya. Lalu, ia minta bantuan sepupunya, Farij, untuk mengurus penjualan. Dengan janji, jika tanah laku, akan diberi 20 persen dari penjualan. 

BACA JUGA:Haji Warisan

Fee itu terlalu tinggi untuk ukuran jual beli tanah. Sebab, Farij masih keluarga. Harta warisan itu milik ortu Sugiansyah yang juga paman dan bibi Farij. 

Tanah laku Rp1 miliar. Uang diterima Sugiansyah. Namun, janji fee belum dibayarkan ke Farij. Sudah ditagih oleh Farij, tetapi fee belum juga dibayarkan. Sampai, Sugiansyah membeli dan membangun sebuah rumah (di TKP).

Jumat sore, 10 April 2026, Sugiansyah bersama istri dan seorang anaknya menjenguk rumah barunya yang masih dibangun. Rumah masih dikerjakan para tukang. Namun, sudah tinggal pembangunan bagian akhir.

Sekitar pukul 16.40 WIB datanglah empat orang ke rumah tersebut. Mereka naik mobil Honda Brio. Mereka adalah Farij dan tiga saudaranya: Ariansyah, Ranawati, dan Fedril. Mereka masih saudara sepupu Sugiansyah. 

Mereka bertemu di teras depan, sementara Ria dan anaknyi ada di dalam rumah.

Farij dan tiga saudaranya menagih janji fee ke Sugiansyah. Terjadi cekcok. Lalu, naik jadi perkelahian satu lawan tiga. Farij menikam Sugiansyah lima kali, tiga kena dada lainnya di perut kiri-kanan. Berarti, Farij membawa pisau saat tiba di situ.

Para tukang bangunan yang sedang mengerjakan rumah tak sempat melerai. Penikaman berlangsung cepat. Empat pelaku langsung pergi, masuk ke mobil mereka. Lalu, kabur.

Ria dan anaknyi melihat Sugiansyah terkapar meregang nyawa. Saat itu hari sudah gelap. Juga, hujan lebat. Para tetangga (calon tetangga) tidak berani menolong korban. Sugiansyah dibawa para tukang ke RS Bunda. Di IGD dokter mengatakan, Sugiansyah sudah meninggal. Ria lapor polisi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: