Berebut Uang Warisan Makan Nyawa di Lubuklinggau: Antara Warisan dan Fee

Berebut Uang Warisan Makan Nyawa di Lubuklinggau: Antara Warisan dan Fee

ILUSTRASI Berebut Uang Warisan Makan Nyawa di Lubuklinggau: Antara Warisan dan Fee.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

AKBP Adithia: ”Identitas para pelaku jelas. Kami memburu mereka. Tersangka F kami tangkap di Desa Sungai Pinang, Kecamatan Muara Lakitan, malam itu juga. Menyusul pelaku lainnya.”

Para tersangka dijerat Pasal 458 KUHP, pembunuhan. Ancaman maksimal hukuman 15 tahun penjara.

Harta warisan bisa jadi sumber konflik jika tidak diatur secara baik oleh pemilik harta (ortu).

Dikutip dari Forbes, 14 November 2016, berjudul The Shocking Reason Why Siblings Squabble Over Inheritance and How to Prevent It, karya Kerri Zane, diulas soal harta warisan.

Dibuka dengan kalimat komedian dari West Virginia, AS, Matt Wohlfarth, begini: ”Kau tahu kata orang, di mana ada surat wasiat, di situ ada keluarga yang memperebutkannya.”

Umumnya, harta warisan menjadi rebutan para ahli waris. 

Disebutkan, Michael Fuhr, Certified Financial Planner (CFP) dari SageVest Wealth Management, berpendapat bahwa perebutan harta warisan karena anak-anak dewasa tidak cukup menabung untuk pensiun mereka sendiri. Jadinya, mereka mengandalkan harta warisan. 

SageVest Wealth Management adalah perusahaan manajemen investasi dan perencanaan keuangan independen berkantor pusat di Northern Virginia, AS. 

Menurut Fuhr, harta warisan ortu diperebutkan karena anak-anak menjalani hidup mereka dengan asumsi bahwa warisan mereka akan membiayai rencana pensiun mereka.

Lain lagi, pakar neuropsikologi dari Boston, AS, Aladdin Ossorio, berpendapat, itu terjadi terutama karena kita hidup dalam budaya yang terobsesi dengan uang. 

Ossorio: ”Memaksimalkan posisi keuangan seseorang adalah motivator utama. Kesempatan untuk mendapatkan uang, membuat mereka mengabaikan perilaku etis seputar sumber uang tersebut.”

Menurutnya, orang tua berperan dalam harapan warisan. 

Ossorio: ”Orang tua sebaiknya bicara terbuka kepada anak-anak mereka yang sudah dewasa (bahkan cucu mereka) tentang benda, barang, dan jumlah uang yang tepat yang ingin mereka tinggalkan. Jika tidak, berpotensi konflik.”

Sebab, semua orang pada dasarnya ingin mendapatkan sumber daya hidup lebih banyak daripada orang lain, termasuk dari saudaranya sendiri.

Dikutip dari Psychology Today, 1 April 2021, berjudul Why Sibling Conflict Can Turn Deadly, karya Nigel Barber, diulas tentang sumber sikap tamak manusia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: