BACA JUGA:Iran vs Israel: The Clash of Wills (Pertarungan Kehendak)
Kalau dari teori kekalahan di Vietnam, AS tentu tak ingin ribuan prajuritnya jadi santapan rudal Iran. Yang bisa membuat rakyat AS marah besar.
Setelah perang Vietnam, tak ada lagi medan perang yang membuat jumlah tentara AS tewas dua digit. Dalam perang panjang di Afghanistan selama 20 tahun, tentara AS yang tewas 3.586. Kala invasi ke Irak yang menjatuhkan Saddam Hussein, sekitar 4.000 prajurit yang tewas. Itu karena tentara Irak memilih angkat tangan.
Namun, dengan musuh Iran, jumlah tentara AS yang tewas bisa lebih besar. Sekarang masih tukar-manukar rudal. Nanti perang darat –kalau kita melihat data jumlah tank dan pasukan Iran– berlangsung seru.
Iran memiliki 1996 tank dan 610 ribu kendaraan lapis baja. Juga, prajurit aktif sebanyak 610 ribu, lebih besar daripada jumlah anggota TNI yang lebih dari 400 ribu.
BACA JUGA:Iran Gempur Bandara Ben Gurion dengan Rudal Seberat Satu Ton
BACA JUGA:Iran Marah AS Tenggelamkan Kapal Fregat IRIS Dena: Anda Akan Menyesal!
Taktik menghancurkan pangkalan militer AS di sejumlah Teluk Arab itu juga menguntungkan Iran bila serangan darat dimulai. Kalau melihat di peta, pangkalan-pangkalan itu mengepung Iran. Mengisolasi Iran. Dan, setelah serangan, melemahkan isolasi itu.
Kalau pangkalan tersebut tak dihancurkan, AS menjadikan pintu masuk invasi darat. Seperti nasib Saddam Hussein dulu.
Mau tak mau, AS dan Israel harus melakukan perang darat. Bila ingin mengendalikan Taheran. Sebab, harapan Trump –yakni, jika Ali Khamenei dan para jenderal tewas, akan mendorong rakyat Iran melakukan revolusi– ternyata tak terbukti.
BACA JUGA:Dampak Perang Iran dan Kemesraan AS-Inggris: Inggris Tak Lagi Setia Seperti Dulu
BACA JUGA:Trump Plinplan, Tujuan Serangan ke Iran Tidak Jelas dan Inkonsisten
Rakyat Iran malah turun ke jalan. Berikrar membalas kematian pemimpinnya. Serangan ke Israel makin berkobar. Mata rantai pemimpin Iran tak putus.
Trump menyebutkan, dalam empat atau lima pekan, perang ini akan selesai. Ya, sekali lagi, kalau tak ada perang darat yang merebut Istana Sa’dabad (kantor presiden Iran) dan tempat tinggal Mullah Iran, rasanya Republik Islam Iran tetap berdiri.
Apakah Trump dan Israel akan menyerbu lewat pasukan darat? Yang jelas, pasukan Iran lebih kuat jika dibandingkan dengan pasukan Saddam Hussein dulu. Juga, bukan seperti Venezuela yang tak berkutik. Intinya, AS-Israel dapat lawan tangguh. Bahkan, bisa juga seperti di Vietnam yang menjadi ladang pembantaian prajurit Paman Sam. (*)