HARIAN DISWAY – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Sabtu, 7 Maret 2026. Berdasarkan data perbankan nasional, dolar AS diperdagangkan di kisaran Rp16.900 hingga Rp17.400 per USD.
Pada awal Maret 2026, rupiah sempat bergerak di sekitar Rp16.870 per dolar AS. Memperlihatkan tekanan yang dialami mata uang negara berkembang akibat dinamika global dan pergerakan arus modal internasional.
Fluktuasi dolar tidak hanya memengaruhi aktivitas perdagangan internasional, tetapi juga berdampak pada harga barang impor, investasi, serta stabilitas ekonomi nasional.
Berdasarkan data pasar valuta asing dan perbankan Indonesia, kurs dolar AS terhadap rupiah pada Sabtu, 7 Maret 2026 berada di kisaran berikut:
· 1 USD = Rp16.985 · 10 USD = Rp169.850 · 100 USD = Rp1.698.500 · 1.000 USD = Rp16.985.000BACA JUGA:Nilai Tukar Rupiah Nyaris Sentuh Rp17 Ribu Per Dolar AS, Ini Dampaknya
BACA JUGA:Ini Penyebab Rupiah Melemah ke Rp16.800 per Dolar AS
Penyebab Dolar Menguat terhadap Rupiah
Sejumlah faktor dinilai menjadi pendorong penguatan dolar terhadap rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Salah satunya adalah posisi dolar sebagai mata uang safe haven yang cenderung diminati investor saat ketidakpastian ekonomi global meningkat.
Selain itu, arus modal yang keluar dari pasar negara berkembang juga memberi tekanan terhadap nilai tukar. Kondisi ini biasanya terjadi ketika investor global memindahkan dana dari pasar saham maupun obligasi di negara berkembang ke aset yang dianggap lebih aman.
Kebijakan suku bunga Amerika Serikat (The Fed) juga turut memengaruhi pergerakan dolar. Suku bunga yang relatif tinggi membuat investasi berbasis dolar menjadi lebih menarik dibandingkan mata uang lain.
Di sisi domestik, stabilitas rupiah juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi dalam negeri seperti kondisi fiskal, belanja pemerintah, serta pertumbuhan ekonomi nasional.
Jika melihat tren beberapa tahun terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar menunjukkan kecenderungan melemah secara bertahap. Pada 2023, rata-rata kurs berada di sekitar Rp15.500 per dolar, lalu meningkat menjadi Rp16.000 pada 2024 dan sekitar Rp16.445 pada 2025. Memasuki awal 2026, kurs bergerak di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.000 per dolar.
BACA JUGA:Rupiah Melemah ke Rp16.634, Tekanan Datang dari Kebijakan Pemerintah dan Penguatan Dolar AS
BACA JUGA:Kini Harga Emas Merosot setelah Melonjak 3 Hari, Imbas Menguatnya Indeks Dolar AS
Pergerakan nilai tukar tersebut memiliki dampak langsung bagi masyarakat. Pelemahan rupiah dapat membuat harga barang impor seperti produk elektronik, bahan baku industri, hingga kendaraan menjadi lebih mahal.
Selain itu, biaya pendidikan bagi mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di luar negeri juga berpotensi meningkat. Namun di sisi lain, kondisi ini dapat memberikan keuntungan bagi pelaku ekspor karena pendapatan dalam dolar akan bernilai lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah. (*)