Perang Narasi Era Akal Imitasi

Senin 09-03-2026,06:33 WIB
Reporter : Doan Widhiandono*
Editor : Yusuf Ridho

Jika dahulu propaganda visual membutuhkan tim produksi besar, kini sebuah gambar realistis dapat dibuat hanya dengan perintah teks sederhana. Biayanya murah. Waktunya singkat. Dampaknya bisa sangat luas.

BACA JUGA:Dampak Perang Iran dan Kemesraan AS-Inggris: Inggris Tak Lagi Setia Seperti Dulu

BACA JUGA:Saudi Siap Ambil Semua Langkah Hadapi Eskalasi Perang AS–Israel vs Iran

Salah satu contoh ekstrem muncul awal tahun ini, ketika AS menangkap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro. Tidak lama setelah berita itu beredar, media sosial dipenuhi gambar yang diklaim sebagai foto pertama Maduro dalam tahanan. Gambar tersebut viral dengan cepat.

Namun, kemudian diketahui bahwa foto itu bukan dokumentasi peristiwa nyata. Ia dibuat dengan generator gambar berbasis AI milik Google. Pembuatnya, seorang pengguna media sosial dengan kurang dari seratus pengikut. Ia mengaku hanya ingin melihat apakah sebuah akun kecil bisa membuat gambar viral.

Eksperimen itu berhasil. Gila!

Dalam hitungan jam, gambar tersebut disebarkan akun-akun besar dan dipercaya banyak orang sebagai dokumentasi asli. Bahkan, ada pengguna yang meminta chatbot AI untuk memverifikasi gambar tersebut. Parahnya, beberapa respons AI menyatakan gambar itu otentik!

BACA JUGA:Tenang, Amerika Serikat Tak Selalu Menang Perang

BACA JUGA:Iran Serang Israel, Perang Dunia Ketiga di Depan Mata?

Kasus tersebut menunjukkan dua hal: mudahnya memproduksi disinformasi visual dan mudahnya publik memercayainya.

Fenomena serupa muncul dalam konteks politik.

Di Nepal, menjelang pemilu nasional pertama setelah krisis politik besar pada 2025, para peneliti menyebut kampanye digital di negara itu sebagai ”digital battleground”. Medan perang digital.

Berbagai konten manipulatif beredar di media sosial, termasuk gambar drone buatan AI yang menampilkan kerumunan massa raksasa pada sebuah rapat politik. Gambar tersebut kemudian dibagikan tokoh politik sebagai bukti dukungan besar. Analisis tim pemeriksa fakta menunjukkan bahwa gambar itu dibuat menggunakan peranti AI. Jumlah massa sebenarnya jauh lebih kecil.

BACA JUGA:Potensi Perang Paregreg II di Era Modern

BACA JUGA:Jika Tak Ingin Perang, Demokratislah!

Kasus lain TikTok menampilkan video yang seolah memperlihatkan seorang pemimpin partai menyerukan dukungan kepada partai lawan. Video tersebut juga merupakan hasil deepfake.

Kategori :