JAKARTA, HARIAN DISWAY – Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah membuat PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) merelokasi sejumlah pekerjanya dari kawasan tersebut.
Sebanyak 19 perwira Pertamina berhasil dievakuasi dari Irak dan Uni Emirat Arab (UEA) ke Indonesia demi memastikan keselamatan mereka di tengah situasi keamanan yang memanas.
Relokasi tersebut melibatkan 11 pekerja yang bertugas di Basra, Irak dan 8 pekerja yang berada di Dubai, UEA.
BACA JUGA:Hari Ke-13 Perang, Iran Lancarkan Serangan Paling Masif pada Malam Lailatul Qadar
BACA JUGA:Evakuasi WNI dari Iran Dimulai, 22 Orang Tiba di Tanah Air
Proses evakuasi dari Basra menuju Jakarta memakan waktu hingga 14 hari karena sejumlah bandara internasional di kawasan Timur Tengah sempat ditutup akibat situasi keamanan.
Direktur Utama PHE Awang Lazuardi menyampaikan bahwa dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah memang berdampak terhadap aktivitas operasi perusahaan di Irak.
“Geopolitik yang dinamis tentu berpengaruh bagi operasi kita di Irak. Alhamdulillah karena koordinasi yang sangat baik dari PIEP, PHE, Pertamina dan dukungan Kementerian Luar Negeri serta KBRI di sejumlah negara, teman-teman bisa pulang dengan selamat,” ujar Awang dikutip Kamis, 12 Maret 2026.
BACA JUGA:Stres saat Macet? Ini Aromaterapi Mobil yang Bisa Menenangkan Pikiran
BACA JUGA:Trump Telepon Putin 1 Jam, Diminta Akhiri Konflik dengan Iran secara Diplomatik
Direktur Utama PIEP Syamsu Yudha menegaskan bahwa keselamatan pekerja menjadi prioritas utama perusahaan.
Menurutnya, perusahaan menjalankan seluruh prosedur keselamatan secara disiplin melalui sistem HSSE serta Business Continuity Plan (BCP).
“Kami juga terus memonitor situasi secara real-time guna memastikan perlindungan optimal bagi seluruh personel,” kata Syamsu.
Perusahaan juga melakukan asesmen terhadap berbagai rute evakuasi alternatif untuk mengantisipasi kemungkinan penutupan wilayah udara di kawasan tersebut.
Evakuasi Melalui Jalur Darat dan Udara
Proses evakuasi dilakukan secara bertahap dengan melibatkan Emergency Response Team (ERT) setelah muncul informasi mengenai serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.