Lampu Kuning untuk MBG

Jumat 13-03-2026,08:33 WIB
Reporter : Taufik Lamade
Editor : Yusuf Ridho

BACA JUGA:Pengaruh Implementasi MBG terhadap Makroekonomi Daerah Sebelum dan Sesudah Program Berjalan

BACA JUGA:Menuju Model Hybrid Pengelolaan MBG

Soeharto, presiden legendaris, juga melakukan berbagai amputasi program untuk selamat dari krisis ekonomi 1998. Walau, pada akhirnya penguasa Orde Baru itu tetap jatuh. 

Potret Soeharto saat meneken tanda bersedia mengikuti kemauan IMF menjadi foto selalu diingat dengan getir. Foto itu jadi legendaris karena saat Pak Harto membubuhkan tanda tangan, bos IMF Michel Camdessus  dengan melipat tangan ”megawasi” dari belakang.

Mungkin kalau 1998 sudah era medsos, reaksi netizen akan heboh. Mungkin lebih heboh daripada reaksi potret Prabowo yang memegang map Board of Peace (BoP) saat foto bersama Donald Trump.

MBG dengan anggaran Rp335 triliun menelan hampir 10 persen APBN. Belum pernah ada proyek sebesar itu. Bahkan, Kepala BGN Dadan Hindayana dengan bangga menyebut 1,5 bulan awal 2026 sudah menyerap Rp32,1 triliun. 

BACA JUGA:MBG dan Ambisi Generasi Emas 2045

BACA JUGA:Uji Diskresi Program MBG

Fitch Ratings, dalam keterangannya,  menyebut secara khusus terlalu besarnya bantuan sosial. Yang mencapai 1,3 persen PDB. Mereka memperkirakan pemerintah akan melebarkan defisit APBN dari yang biasa 3 persen PDB. Itulah yang membuat penilaian prospek utang jadi negatif.

Sinyal negatif itu mulai direspons pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya langsung menyenggol MBG. Ia pun menegaskan akan memotong biaya yang tidak terkait makanan. Misalnya, mencoret usulan pengadaan kendaraan. Pengadaan komputer juga dicoret.

Yang dicoret itu masih kulitnya. Tapi, itu bisa dibilang ada keberanian Menteri Purbaya. Sebab, selama ini MBG adalah proyek yang harus jalan. Tak tersentuh. Ke mana-mana Prabowo selalu membanggakan MBG.

BACA JUGA:MBG, Mengawal Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045

BACA JUGA:Quo Vadis Kapasitas Kebijakan MBG

Langkah Menkeu Purbaya itu apakah tanda awal MBG mulai goyang? Tentu terlalu dini karena semuanya di tangan Prabowo. Sejauh ini masih kukuh MBG jalan terus. 

Tapi, bila situasi ekonomi terus tertekan. Rupiah makin tepar, harga minyak makin melonjak, Presiden Prabowo berada di dua pilihan. Pertama, menggali utang lebih dalam lagi yang berisiko ekonomi bergejolak. Krisis ekonomi pasti bermuara ke krisis sosial dan politik.  

Pilihan lainnya, harus tega memotong program andalannya, MBG, seperti Habibie menghentikan IPTN. (*) 

Kategori :