Membunuh dengan Kata: Ketika Perundungan Siber Terjadi di Ruang Akademik

Membunuh dengan Kata: Ketika Perundungan Siber Terjadi di Ruang Akademik

ILUSTRASI Membunuh dengan Kata: Ketika Perundungan Siber Terjadi di Ruang Akademik.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

POLEMIK perundungan siber (cyberbullying) seketika memberikan sensasi sesak di dada. Sebab, secara emosional, yang terbayangkan, perundung adalah orang-orang di sekitar yang tampak baik-baik saja. Ironisnya, itu terjadi di ruang akademik

Perundungan siber bukanlah masalah baru. Istilah itu menjadi perhatian global seiring berkembangnya internet dan media sosial. Sayang, dampak permasalahan tersebut terus meningkat dan menjadi ancaman nyata, terutama bagi generasi muda.

Segala bentuk perundungan, penindasan, atau pelecehan yang dilakukan secara sengaja, berulang-ulang, dan terus-menerus melalui dunia maya seperti media sosial, platform chat, situs web, hingga permainan daring (game online), menurut Unicef, termasuk cyberbullying.

Fenomena perundungan siber di Indonesia sudah masuk fase mengkhawatirkan. Data dari Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat bahwa hampir setengah dari anak di Indonesia pernah mengalami perundungan siber.

BACA JUGA:Anggota Geng Tersangka Pembunuh Remaja Jogja Ngumpet di Safe House: Gelembung Perundungan

 BACA JUGA:DP3APPKB Surabaya Respons Video Viral Perundungan Anak di Kapasari Pedukuhan

Korban mengalami gangguan psikologis yang serius. Bahkan, sampai pada pilihan untuk mengakhiri hidup. Sangat miris.

Perundungan Siber di Ruang Akademik

Tindakan perundungan itu dapat dilakukan oleh atau terhadap civitas academica di kampus (mahasiswa, dosen, atau tenaga kependidikan/karyawan). Perundungan siber dilakukan dengan menggunakan perangkat digital pada forum daring, media sosial, atau aplikasi pesan seperti WhatsApp atau grup WhatsApp.

Seorang mahasiswa di sebuah universitas ternama menjadi korban perundungan siber melalui grup chat kelas. Mahasiswa itu berasal dari daerah. Awal menjabat sebagai komting kelas (ketua kelas) yang tugasnya menjembatani informasi antara dosen dan mahasiswa di kelas, mahasiswa pintar itu baik-baik saja. 

Seiring waktu, perundungan melalui grup chat dari teman-teman dengan kata-kata kasar mulai muncul ditujukan kepadanya seperti ”komting goblok”, ”si gemoy” (body shaming), ”si cari muka,” dan lain-lain yang membuatnya merasa dipermalukan.

BACA JUGA:Perundungan Diduga Jadi Pemicu Ledakan di SMAN 72 Jakarta, DPR Desak Investigasi Menyeluruh

BACA JUGA:Stop Bullying! Kenali Jenis-Jenis dan Cara Mencegah Perundungan di Sekitar Kita

Mahasiswa tersebut mengalami depresi berat. Menurut orang tuanya, mahasiswa itu sudah tidak bersemangat belajar dan tidak mau melanjutkan kuliah. Skripsi telah beberapa semester ditelantarkan. Akibat dari kata-kata buruk dan perlakuan teman-temannya selama ini yang telah menyakiti korban secara psikologis dan emosional.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: