Algoritma Media Sosial dan Urgensi Literasi Multikultural

Jumat 13-03-2026,11:33 WIB
Oleh: Yuyun W.I. Surya*

LITERASI MULTIKULTURAL SEBAGAI PENANGKAL

Ancaman terbesar dari situasi ini adalah melemahnya penghargaan terhadap keberagaman sosial. Ketika pengguna terus-menerus terpapar pada konten yang sejalan dengan keyakinannya sendiri, ruang untuk memahami perspektif lain menjadi makin sempit.

Karena itu, literasi digital tidak cukup dipahami hanya sebagai kemampuan teknis menggunakan teknologi. Literasi digital juga harus mencakup kemampuan berpikir kritis, termasuk memahami bagaimana algoritma bekerja dan bagaimana informasi dapat dimanipulasi di ruang digital.

Namun, literasi digital saja tidak cukup. Masyarakat, terutama generasi muda, perlu dibekali dengan literasi multikulturalisme. Literasi multikulturalisme di era digital dapat dipahami sebagai kesadaran untuk menghargai perbedaan dan keberagaman dalam interaksi di ruang digital. 

Literasi itu menekankan pentingnya menghindari stereotipe terhadap kelompok sosial tertentu serta membuka diri terhadap berbagai perspektif yang berbeda.

Fenomena echo chamber dan filter bubble perlu disadari oleh pengguna media sosial. Dua fenomena itu membuat seseorang hanya berinteraksi dengan informasi yang memperkuat keyakinannya sendiri. 

Cara mengatasinya adalah membiasakan diri mencari beragam sumber informasi serta membuka ruang dialog dengan perspektif yang berbeda.

Oleh karena itu, sangat urgen kiranya untuk membekali masyarakat di era digital ini dengan literasi multkulturalisme. Nilai-nilai multikulturalisme harus dipergunakan sebagai bekal untuk menangkal kuasa algoritma, terutama berkaitan dengan maraknya rage engagement saat menggunakan media digital.

Media (termasuk media digital) adalah arena kontestasi antarideologi. Karena itu, jika narasi-narasi antimultikulturalisme eksis di dunia digital, sebenarnya pada saat yang sama narasi-narasi multikulturalisme juga bisa dibangun dan diciptakan di dunia digital. 

Upaya itu sekaligus menjadi penyelamat bagi anak bangsa dari polarisasi dan sebagai upaya menegakkan toleransi dan penerimaan pada perbedaan dan keberagaman. (*)

*) Yuyun W.I. Surya, staf pengajar di Departemen Komunikasi, FISIP, Universitas Airlangga, serta guru besar bidang media digital dan multikulturalisme.

Kategori :