Algoritma Media Sosial dan Urgensi Literasi Multikultural

Jumat 13-03-2026,11:33 WIB
Oleh: Yuyun W.I. Surya*

KUASA ALGORITMA MEDIA SOSIAL

Memang, Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) pada 2025 menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun, peningkatan indeks tersebut belum cukup untuk mengimbangi dinamika ruang digital yang berkembang sangat cepat.

Untuk memahami situasi itu, penting melihat bagaimana algoritma media sosial bekerja. Algoritma merupakan sistem komputasional berbasis kecerdasan buatan yang menyaring dan mempersonalisasi konten bagi setiap pengguna. 

Sistem itu mempelajari perilaku pengguna –apa yang ditonton, disukai, dikomentari, atau dibagikan– lalu menyajikan konten yang dianggap paling relevan dengan minat mereka.

Di satu sisi, mekanisme itu memudahkan pengguna menemukan informasi yang sesuai dengan preferensinya. Namun, di sisi lain, algoritma juga menciptakan ruang informasi yang makin sempit. 

Pengguna terus-menerus disuguhi konten yang serupa dengan minatnya sendiri sehingga jarang bertemu dengan pandangan yang berbeda.

Kondisi itu melahirkan apa yang sering disebut sebagai echo chamber atau ruang gema. Di dalamnya, seseorang hanya mendengar kembali pendapat yang serupa dengan keyakinannya sendiri. 

Dalam jangka panjang, situasi semacam itu dapat memperkuat sikap eksklusif dan mengurangi kemampuan untuk memahami sudut pandang yang berbeda.

Akibatnya, media sosial tidak lagi sepenuhnya berfungsi sebagai ruang dialog yang terbuka, tetapi sebagai ruang informasi yang makin terfragmentasi.

EKONOMI KEMARAHAN DI MEDIA SOSIAL

Dalam konteks inilah, muncul strategi yang dikenal sebagai rage bait atau rage engagement. Oxford University Press menggunakan istilah itu untuk menggambarkan konten yang sengaja dirancang untuk memancing kemarahan atau frustrasi pengguna. Konten semacam itu sering kali bersifat provokatif, ofensif, bahkan tidak jarang menyesatkan.

Strategi tersebut sangat efektif dalam logika ekonomi perhatian yang mendominasi media sosial. Konten yang memancing emosi cenderung menghasilkan lebih banyak komentar, berbagi, dan tayangan. Makin tinggi tingkat interaksi yang dihasilkan, makin besar kemungkinan konten tersebut didorong oleh algoritma dan menjadi viral.

Data menunjukkan bahwa hingga Desember 2025 penggunaan strategi rage bait meningkat hingga tiga kali lipat. Fenomena itu menunjukkan bahwa kemarahan telah menjadi komoditas dalam ekosistem media sosial.

Keuntungan yang diperoleh tidak hanya bersifat ekonomi melalui monetisasi konten. Dalam banyak kasus, strategi itu juga dimanfaatkan untuk kepentingan sosial dan politik. Konten yang memancing emosi sering kali lebih efektif untuk memobilisasi dukungan, memperkuat identitas kelompok, atau mendiskreditkan pihak lain.

Praktik semacam itu dapat meningkatkan kecemasan publik, memperkuat polarisasi sosial, dan mengikis kepercayaan masyarakat terhadap informasi di ruang digital.

Di sinilah anak dan generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan. Tanpa kemampuan literasi digital yang memadai, mereka mudah terjebak dalam arus konten yang provokatif, manipulatif, dan emosional.

Kategori :