Andrie kemudian segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. “Dari hasil pemeriksaan, Andrie mengalami luka bakar sebanyak 24 persen,” ujar Dimas.
Diduga Upaya Membungkam Kritik
KontraS menilai serangan tersebut berpotensi berkaitan dengan aktivitas advokasi korban.
“Atas informasi yang kami himpun tersebut, kami menilai bahwa tindakan penyiraman air keras ini merupakan upaya untuk membungkam suara-suara kritis masyarakat khususnya pembela HAM,” ucap Dimas.
Polri menyatakan memberikan perhatian khusus terhadap penanganan kasus ini.
“Dalam kesempatan ini yang perlu kami sampaikan bahwa Bapak Kapolri selaku pimpinan Polri telah memberikan atensi khusus terhadap penanganan dan pengungkapan kasus ini,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat, 13 Maret 2026.
BACA JUGA:Mengurai Teror dan Perusakan Kantor Savy Amira WCC di Surabaya: Pendamping Juga Harus Dilindungi
BACA JUGA:Teror Ancam Ketua BEM UI 2026 dengan Paket COD hingga Ancaman Senjata
Penyelidikan dilakukan oleh Polres Metro Jakarta Pusat dengan dukungan Polda Metro Jaya serta Bareskrim Polri.
“Selanjutnya, bagian daripada menindaklanjuti atensi dan arahan Bapak Kapolri, penanganan yang ada di Satreskrim Polres Jakarta Pusat dilakukan backup balik oleh Polda Metro Jaya maupun oleh dari Bareskrim, khususnya dan kawan-kawan yang ada dari Mabes Polri,” ujar Isir.
Polisi juga telah memeriksa sejumlah saksi yang berada di sekitar lokasi kejadian.
“Saksi yang diinterview adalah yang bersama-sama dengan pihak korban, yang menolong korban,” ucap Isir.
Jumlah saksi yang diperiksa diperkirakan akan terus bertambah seiring berjalannya proses penyelidikan.
DPR RI Minta Kasus Diusut Tuntas
Insiden tersebut juga menuai kecaman dari anggota DPR.
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Andreas Hugo Pareira meminta kepolisian segera mengungkap pelaku dan motif di balik serangan tersebut.
“Aparat Kepolisian harus segera melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku serta motif dibalik serangan brutal yang sangat tidak manusiawi,” ujar Andreas.
Sementara Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni menilai kejadian itu dapat berdampak buruk bagi iklim demokrasi.