Bangsa ini sebenarnya tidak kekurangan pemimpin yang cerdas. Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang tetap berpikir jernih saat berada di bawah tekanan, tetap bijaksana ketika memiliki kekuasaan, dan tetap mampu menjaga amanah publik.
Dalam situasi dunia yang gaduh dan dalam tantangan domestik yang tidak ringan –termasuk soal pengelolaan dana publik– kualitas kepemimpinan akan menentukan apakah krisis menjadi pintu kemunduran atau justru titik balik pembenahan.
Ramadan memberi kita peluang langka: membersihkan niat, menata ulang arah, dan memulihkan kepercayaan.
Negara harus memimpin dengan kehati-hatian dan kehormatan. Lembaga zakat harus memimpin dengan amanah dan keterbukaan. Dan, masyarakat harus terus menjaga daya kritisnya sebagai kontrol sosial.
Sebab, ketika kepemimpinan dijalankan dengan bijaksana, tekanan tidak akan menurunkan mutu keputusan. Sebaliknya, tekanan justru akan menampakkan kualitas sejati sebuah kepemimpinan. (*)
*) Johantara Hafiyan Harish Fauzi adalah direktur Operasional dan Pengembangan LMI, mahasiswa S-2 Pengambangan Sumber Daya Manusia, Unair, dan peneliti Thinkleap Indonesia.