Kepemimpinan di Tengah Krisis: Menjaga Arah, Menjaga Amanah

Kepemimpinan di Tengah Krisis: Menjaga Arah, Menjaga Amanah

ILUSTRASI Kepemimpinan di Tengah Krisis: Menjaga Arah, Menjaga Amanah.-Arya/AI-Harian Disway-

RAMADAN tahun ini datang pada saat dunia dan bangsa kita sedang diuji oleh ketegangan, emosi, dan krisis kepercayaan. Pemerintah menetapkan 1 RAMADAN 1447 H pada 19 Februari 2026 sehingga pada awal Maret ini umat Islam Indonesia sedang berada di fase-fase penting bulan suci: momen ketika seluruh umat Islam meningkatkan ibadahnya dan kehidupan sosial masyarakat menjadi lebih religius.

Namun, Ramadan kali ini tidak berlangsung dalam ruang hampa. Dunia sedang diliputi ketegangan geopolitik yang makin tajam. Konflik Timur Tengah kembali memanas setelah eskalasi perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran memicu kekhawatiran global. 

Data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah menyumbang salah satu peningkatan pengeluaran militer dunia yang pada 2025 mencapai lebih dari 2,4 triliun dolar AS, tertinggi sepanjang sejarah modern. 

BACA JUGA:Kepemimpinan Visioner Prof. Dr. (H.C.) KH Ma’ruf Amin: Menimbang Kembali Sosok Kiai Teknokrat untuk Rais Aam PBNU

BACA JUGA:Sirkulasi Kepemimpinan, Kunci Demokrasi Naik Kelas

Ketegangan geopolitik seperti itu tidak hanya berdampak pada keamanan global, tetapi juga memengaruhi dinamika diplomasi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dalam konteks tersebut, keputusan Indonesia bergabung dalam forum Board of Peace yang diprakarsai Amerika Serikat memantik kontroversi luas. Kontroversi itu makin tajam setelah perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pecah. 

Pemerintah Indonesia kemudian menunda pembahasan lanjutan terkait forum tersebut. Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan bahwa seluruh pembahasan Board of Peace ditunda karena perhatian pemerintah kini tersedot pada eskalasi konflik Iran. 

Kritik dari kelompok masyarakat sipil dan organisasi muslim di dalam negeri juga menguat karena forum tersebut dinilai berpotensi mengaburkan posisi historis Indonesia yang selama ini konsisten mendukung perjuangan Palestina. 

BACA JUGA:Keterbukaan Adalah Fondasi Kepemimpinan: Ijazah, Keterbukaan, dan Hak Rakyat untuk Mengetahui

BACA JUGA:Kepemimpinan Digital dan Intelektual di Era Teknologi Informasi

Beberapa hari kemudian, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa Indonesia akan keluar dari forum tersebut apabila tidak memberikan manfaat nyata bagi Palestina maupun kepentingan nasional Indonesia.

Peristiwa itu penting bukan semata-mata karena dimensi geopolitiknya, melainkan karena ia memperlihatkan watak dasar kepemimpinan dalam masa krisis. Sejarah menunjukkan bahwa kualitas pemimpin justru diuji ketika situasi berada dalam ketidakpastian. 

Dalam situasi krisis, informasi sering kali simpang siur, tekanan publik meningkat, dan setiap keputusan mengandung konsekuensi politik maupun etik. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: