Nurma: ”Dia anak perantauan, kerja di toko HP. Bosnya nelepon kami di kampung, Rahma tidak masuk kerja sejak Senin. HP ia juga mati. Ternyata begini…”
Syawal dibekuk polisi di jalanan Medan, saat ia membawa koper besar, rupanya hendak kabur. Dua jam kemudian polisi membekuk Sofwan di tempat kosnya di Medan.
Banyaknya kasus model begitu pasti mengkhawatirkan masyarakat. Menakutkan remaja cewek dan para ortu mereka. Bukan soal hubungan seks di luar nikah. Itu sudah rahasia umum. Tapi, soal kekerasan pasangan, sampai pembunuhan. Yang begitu gampang.
Dikutip dari American Psychological Association, 1 Oktober 2023, berjudul Up to 19% of teens experience dating violence. Psychologists want to break the cycle, karya Zara Abrams, diungkapkan para pakar soal itu.
Ketika remaja mulai berkencan, percintaan, dan seks, sejumlah besar dari mereka menjadi korban kekerasan. Di Amerika Serikat (AS) 19 persen remaja mengalami kekerasan seksual atau fisik dalam berkencan.
Sekitar setengahnya menghadapi penguntitan atau pelecehan dan 65 persen melaporkan mengalami pelecehan psikologis (”Teen Dating Violence”, Office of Juvenile Justice and Delinquency Prevention, U.S. Department of Justice, 2022).
Tindak kekerasan dapat terjadi ketika remaja belum memiliki keterampilan mengelola konflik, mengatasi cemburu, dan menghadapi penolakan. Hal itu kian intensif dengan munculnya medsos. Banyak interaksi sosial remaja kini terjadi di ruang publik daring, menambah perasaan malu, dan takut akan penilaian orang lain.
Psikolog Sherry Hamby, pemimpin Life Paths Research Center di Sewanee, Tennessee, AS: ”Wajar kaum muda mengeksplorasi seksualitas mereka. Tetapi, sebagai masyarakat, kita belum punya cara mendukung itu sekaligus melindungi mereka dari risiko kekerasan.”
Para psikolog menyoroti itu dengan penelitian tentang faktor risiko dan pelindung serta pendekatan baru untuk pencegahan yang memprioritaskan keterampilan dan kekuatan daripada psikoedukasi tradisional.
Upaya-upaya tersebut tidak hanya melindungi remaja selama periode perkembangan yang kritis, tetapi juga dapat mengurangi risiko kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di kemudian hari.
Prof Christie Rizzo, psikolog Northeastern University, Boston, AS: ”Ada banyak hal patut disyukuri karena kita akhirnya menyadari bahwa dengan pendekatan yang tepat, kita dapat melakukan intervensi dengan cara yang mengubah arah hidup kaum muda.”
Seperti halnya KDRT, kekerasan di kalangan remaja bersifat multifaset dan banyak penyebab.
Anak-anak yang mengalami trauma, kemiskinan, atau berbagai pengalaman masa kecil buruk, Adverse Childhood Experiences (ACEs) cenderung menjadi korban dan pelaku kekerasan selama masa remaja.
Penelitian juga telah mengaitkan tindakan kekerasan dengan persetujuan terhadap kekerasan dan keyakinan seksual yang bersifat antagonis. Misalnya, keyakinan bahwa kekuasaan atas pasangan itu penting.
Riset oleh Dorothy Espelage, guru besar pendidikan di Universitas North Carolina di Chapel Hill (UNC), menunjukkan bahwa guru memperkuat budaya kekerasan seksual dan kekerasan dalam hubungan kencan, ketika mereka mengabaikan pelecehan seksual yang terjadi di kelas, atau menyalahkan korban ketika seorang siswi melaporkan suatu insiden.
”Jika mahasiswa yang terlibat dalam pelecehan seksual mendapatkan popularitas dan tidak menghadapi konsekuensi, mereka akan terus melakukan hal itu kecuali budaya yang lebih luas mengirimkan pesan yang berbeda kepada mereka,” kata Espelage.