IRAN belum memiliki bom nuklir. Namun, dunia sudah gelisah. Setiap kali nama Iran disebut bersama kata ”nuklir”, reaksi global segera meningkat. Amerika Serikat berbicara keras, Israel lebih keras lagi.
Sanksi ekonomi dijatuhkan, negosiasi internasional digelar, bahkan ancaman militer sesekali muncul ke permukaan. Padahal, senjata itu sendiri belum pernah benar-benar ada.
Mengapa ketakutannya begitu besar? Jawabannya ternyata bukan sekadar soal teknologi senjata. Ia menyangkut keseimbangan kekuasaan dalam geopolitik dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah yang selama ini dikenal sangat sensitif terhadap perubahan kekuatan militer.
Bagi Israel, persoalan itu berkaitan langsung dengan keberlangsungan negara. Secara geografis, Israel adalah negara kecil. Wilayahnya sempit dan kepadatan penduduknya tinggi. Dalam kondisi seperti itu, satu serangan nuklir saja dapat menimbulkan kehancuran yang sangat besar.
BACA JUGA:Menakar Iran Pasca-Ali Khamenei
BACA JUGA:Perang Iran-Israel, Tanda Bahaya dari Timur Tengah
Karena itu, Israel sejak lama memegang prinsip keamanan yang sangat tegas: tidak boleh ada negara musuh di kawasan yang memiliki senjata nuklir.
Prinsip itu bukan sekadar teori. Dalam sejarahnya, Israel pernah menghancurkan reaktor nuklir Irak di Osirak pada 1981 dan menyerang fasilitas nuklir Suriah pada 2007. Kebijakan itu lahir dari satu keyakinan: ancaman harus dihentikan sebelum benar-benar menjadi nyata.
Dalam kerangka itulah, Iran dipandang.
Jika Iran memiliki bom nuklir, Israel melihatnya bukan sekadar sebagai rival geopolitik, melainkan juga sebagai ancaman eksistensial.
BACA JUGA:Iran vs Israel: The Clash of Wills (Pertarungan Kehendak)
BACA JUGA:Di Balik Jual Beli Serangan Israel-Iran
Kekhawatiran Amerika Serikat sedikit berbeda, tetapi tidak kalah besar. Bagi Washington, isu nuklir Iran berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.
Jika Iran berhasil menjadi negara nuklir, negara-negara lain di kawasan hampir pasti tidak akan tinggal diam. Arab Saudi mungkin akan berusaha mengembangkan kemampuan serupa. Turkiye dan Mesir pun bisa saja melakukan langkah yang sama.
Fenomena itu dikenal sebagai nuclear proliferation, ’penyebaran senjata nuklir ke berbagai negara’. Jika perlombaan senjata seperti itu terjadi, Timur Tengah akan berubah menjadi kawasan dengan tingkat risiko konflik paling tinggi di dunia.