Paradoks Perdamaian
ILUSTRASI Paradoks Perdamaian.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
DALAM bukunya, The Age of Unpeace (2021), Mark Leonard mengemukakan sebuah paradoks yang menarik. Dunia modern makin terhubung, tetapi tidak otomatis menjadi lebih damai.
Globalisasi yang diharapkan memperkuat kerja sama justru berjalan beriringan dengan meningkatnya rivalitas geopolitik. Di tengah dunia yang makin terkoneksi, rasa aman ternyata tidak selalu meningkat.
Paradoks yang digambarkan Leonard sesungguhnya menyentuh salah satu dilema paling tua dalam politik internasional: makin besar upaya manusia untuk menciptakan keamanan, makin besar pula potensi ketidakamanan yang dihasilkannya. Itulah yang dapat disebut sebagai paradoks perdamaian.
Selama berabad-abad, pemikiran keamanan internasional dipengaruhi adagium Latin si vis pacem, para bellum, ’jika engkau menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang. Kalimat yang berasal dari tradisi Romawi kuno itu berangkat dari asumsi bahwa kekuatan merupakan syarat bagi keamanan.
BACA JUGA:Pentingkah Indonesia Bergabung dengan Dewan Perdamaian Buatan Trump?
BACA JUGA:Indonesia dan Jalan Perdamaian Kamboja-Thailand
Negara yang kuat diyakini lebih kecil kemungkinannya menjadi korban agresi. Dalam dunia yang tidak memiliki otoritas tertinggi di atas negara, kemampuan mempertahankan diri dipandang sebagai fondasi utama bagi kelangsungan hidup suatu bangsa.
Sulit untuk menyangkal logika tersebut. Sejarah menunjukkan bahwa kelemahan sering kali mengundang dominasi. Banyak bangsa kehilangan kedaulatan bukan karena kurangnya niat baik, melainkan karena ketidakmampuan mempertahankan diri.
Karena itu, pembangunan kekuatan pertahanan tetap menjadi kebutuhan yang sah dan rasional bagi setiap negara.
Namun, sejarah juga memperlihatkan kenyataan yang jauh lebih rumit.
Menjelang Perang Dunia I, negara-negara Eropa berlomba memperkuat militer dengan alasan menjaga stabilitas. Yang lahir justru menjadi salah satu perang paling mematikan dalam sejarah manusia. Pada masa Perang Dingin, Amerika Serikat dan Uni Soviet mengumpulkan ribuan hulu ledak nuklir atas nama pencegahan konflik.
BACA JUGA:Hari Perdamaian Internasional: Act Now for A Peaceful World, dari Konstitusi ke Panggung PBB
BACA JUGA:Hari Perdamaian Internasional: Ekspresi Seni sebagai Jalan Damai
Strategi tersebut memang berhasil mencegah perang langsung antara dua adidaya, tetapi sekaligus menempatkan umat manusia di bawah ancaman kehancuran global selama puluhan tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: