Paradoks Perdamaian

Paradoks Perdamaian

ILUSTRASI Paradoks Perdamaian.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Tentu tidak realistis mengharapkan negara mengabaikan kebutuhan pertahanannya. Dalam lingkungan internasional yang masih bersifat anarkis, kemampuan mempertahankan diri tetap merupakan prasyarat penting bagi kedaulatan. 

Namun, keamanan abad ke-21 menuntut perspektif yang lebih luas. Sebuah negara mungkin memiliki militer yang kuat, tetapi tetap rentan terhadap krisis kesehatan, kerusakan lingkungan, atau ketahanan pangan yang lemah.

Bagi Indonesia, refleksi itu relevan di tengah dinamika Indo-Pasifik yang makin kompleks. Modernisasi pertahanan merupakan kebutuhan strategis. Namun, tradisi politik luar negeri bebas aktif mengingatkan bahwa keamanan tidak dapat dibangun hanya melalui akumulasi kekuatan. 

Stabilitas kawasan juga bergantung pada diplomasi, pembangunan kepercayaan, kerja sama ekonomi, dan kemampuan mengelola berbagai tantangan secara bersama-sama.

Pada titik itu, paradoks perdamaian sesungguhnya bukan sekadar persoalan perang dan senjata. Ia adalah persoalan tentang bagaimana manusia mendefinisikan keamanan.

Fenomena tersebut mengingatkan pada sebuah analogi sederhana. Dalam upaya melindungi tanaman dari hama, manusia menciptakan pestisida yang kemudian harus terus dikelola agar tidak membahayakan dirinya sendiri. 

Analogi tersebut menggambarkan kecenderungan yang sama dalam kehidupan modern: manusia kerap menciptakan instrumen perlindungan yang sekaligus menimbulkan kerentanan baru. 

Dalam politik internasional, senjata dan perlombaan militer sering kali bekerja dengan logika yang serupa. Apa yang mula-mula dimaksudkan sebagai perlindungan dapat berubah menjadi sumber kecemasan yang terus membesar.

Itulah paradoks terbesar peradaban manusia: kita menciptakan senjata untuk menjaga perdamaian dan menyiapkan perang untuk mencegah perang. Dalam batas tertentu, semua itu mungkin diperlukan. 

Namun, ketika persiapan menghadapi perang menjadi lebih besar daripada persiapan membangun perdamaian, kita sesungguhnya sedang mempertahankan paradoks yang tidak pernah berakhir.

Pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah peradaban bukan terletak pada seberapa canggih kemampuannya menghancurkan, melainkan pada seberapa besar kemampuannya menghindari kehancuran. 

Sebab, perdamaian yang sejati tidak lahir ketika manusia memiliki kemampuan untuk saling menghancurkan, melainkan ketika mereka memiliki alasan yang lebih kuat untuk tidak melakukannya. 

Di tengah dunia yang makin dipersenjatai, tantangan terbesar kita bukanlah bagaimana memenangkan perang berikutnya, melainkan bagaimana memastikan bahwa perdamaian tidak terus-menerus disandera oleh ketakutan yang diciptakan atas nama perdamaian itu sendiri. (*)

*) Eko Ernada adalah dosen hubungan internasional, Universitas Jember.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: