Panggung Bayangan

Panggung Bayangan

ILUSTRASI Panggung Bayangan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

SUDAH lebih dari sepekan saya mendapat pertanyaan yang sama dari banyak orang. Ada aktivis lama, ada pengusaha. Anehnya, justru lebih banyak pengusaha.

Agustus ini akan terjadi apa?,” tanya mereka. Saya menjawab sambil bercanda. Yang pasti, ada peringatan Hari Kemerdekaan RI. Ada upacara. Ada pidato presiden.

Mereka tertawa. Tetapi, saya tahu mereka sebenarnya sedang serius. Sedang menebak-nebak apa yang akan terjadi di negeri ini.

Pertanyaan itu muncul setelah beberapa mal memasang pagar tinggi. Pada saat yang sama, di media sosial berseliweran video demonstrasi mahasiswa. 

Dua peristiwa yang sesungguhnya belum tentu saling berkaitan. Tapi, di kepala publik seperti menjadi satu rangkaian cerita.

BACA JUGA:Panggung Madas

BACA JUGA:Ketika Sekolah Menjadi Panggung Pembentukan Budaya Baru

Saya sempat membaca penjelasan pengelola mal. Katanya, pemagaran bukan karena ada informasi mengenai potensi kerusuhan. Sebagian karena penataan kawasan. Sebagian lagi untuk memperkuat sistem keamanan. 

Saya percaya saja.

Tetapi, saya juga memahami bahwa dalam politik, yang bekerja tidak selalu fakta. Yang sering kali lebih kuat justru persepsi. Dan, persepsi tak selalu terbangun dari sesuatu yang nyata atau benar-benar realitas sosial.

Ketika beberapa mal memasang pagar hampir bersamaan, publik menangkap simbol yang berbeda. Ketika simbol itu bertemu dengan video demonstrasi yang terus berulang di media sosial, lahirlah kesan bahwa negeri ini sedang memasuki situasi yang genting.

Padahal, apakah benar demikian? Belum tentu.

BACA JUGA:Menempa Pemimpin Indonesia di Panggung Global

BACA JUGA:Memetakan Perang Narasi di Balik Panggung Demokrasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: