Panggung Bayangan
ILUSTRASI Panggung Bayangan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Sampean pasti tahu, mahasiswa baru memasuki awal perkuliahan. Sangat mungkin video yang beredar merupakan dokumentasi lama yang diedarkan ulang dengan narasi baru.
Di media sosial, umur sebuah video hampir tidak pernah menjadi persoalan. Selama mampu memancing emosi, ia akan terus diputar, dibagikan, dan dipercaya.
Di sinilah saya melihat lahirnya apa yang saya sebut sebagai hologram politik. Hologram adalah gambar tiga dimensi yang tampak nyata.
Dari kejauhan ia terlihat seperti benda sungguhan. Bahkan, seolah dapat disentuh. Padahal, sesungguhnya ia hanyalah pantulan cahaya dengan teknologi tertentu.
Politik digital bekerja dengan cara yang hampir sama. Sebuah video lama diputar ulang. Sebuah potongan berita dipisahkan dari konteksnya.
Sebuah narasi diberi judul yang dramatis. Lalu, semua dipertemukan oleh algoritma media sosial. Jadilah realitas baru di kepala publik.
Yang terbentuk bukan lagi fakta, melainkan persepsi. Itulah hologram politik.
Ia bukan sepenuhnya kebohongan. Tetapi, juga bukan keseluruhan kenyataan. Ia adalah realitas yang diperbesar, dipilih, diulang, lalu diproyeksikan. Terkadang tampak jauh lebih besar daripada kondisi yang sebenarnya.
Media sosial adalah proyektornya. Algoritma menjadi operatornya. Dan, kita semua, sering kali tanpa sadar, menjadi penontonnya.
Kata anak mantu saya yang bekerja di dunia digital, lima tahun lalu yang bekerja masih manusia. Meski seseorang bisa mengelola puluhan akun. Kini sebagian besar dikerjakan robot dengan teknologi artificial intelligence (AI).
Yang lebih menarik lagi adalah munculnya apa yang saya sebut sebagai panggung bayangan. Panggung yang terbentuk maupun yang diciptakan.
Dalam dunia pertunjukan, bayangan sering kali muncul lebih dahulu sebelum aktor memasuki panggung. Bayangan itulah yang membangun rasa penasaran. Bahkan, rasa takut penonton.
Penonton mulai menebak-nebak siapa yang akan muncul? Apa yang akan terjadi? Dan, bagaimana akhir ceritanya.
Politik hari ini juga bekerja seperti itu. Panggungnya belum tentu ada. Namun, bayangannya sudah memenuhi ruang publik.
Orang mulai membicarakan kemungkinan demonstrasi besar. Pengusaha meningkatkan pengamanan. Masyarakat menjadi cemas. Aparat memperketat kewaspadaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: