Panggung Bayangan

Panggung Bayangan

ILUSTRASI Panggung Bayangan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Dahulu ancaman datang dari sensor. Kini ancaman datang dari banjir informasi. Yang membuat orang sulit membedakan mana fakta, mana opini, dan mana rekayasa persepsi.

Karena itu, kita tak perlu larut dalam setiap kegaduhan yang diproduksi media sosial. Juga, tak perlu menyepelekan setiap sinyal yang muncul di ruang publik. Yang diperlukan kini adalah kejernihan membaca keadaan.

Demokrasi membutuhkan kritik. Demonstrasi juga hak konstitusional warga negara. Tetapi, demokrasi yang sehat tidak dibangun di atas manipulasi persepsi ataupun politik ketakutan.

Jangan sampai kita sibuk memerangi bayangan, sedangkan kenyataan yang sesungguhnya justru luput dari perhatian.

Pada akhirnya, tantangan terbesar Indonesia hari ini tidak hanya menjaga stabilitas politik. Yang jauh lebih sulit adalah menjaga kejernihan akal sehat.

Akal sehat adalah benteng terakhir demokrasi. Di zaman ketika hologram dapat terlihat lebih nyata daripada kenyataan dan panggung bayangan terasa lebih ramai daripada panggung sesungguhnya.

BACA JUGA:Ketika Sekolah Menjadi Panggung Pembentukan Budaya Baru

BACA JUGA:Panggung Madas

Di tengah hiruk-pikuk ruang digital, kemampuan berhenti sejenak untuk memeriksa fakta adalah bentuk keberanian yang paling dibutuhkan. Juga, menimbang setiap informasi dengan kepala dingin.

”Mengapa demikian? Sebab, hanya bangsa yang mampu menjaga akal sehatnya yang akan sulit dipermainkan bayangan. Apalagi, diombang-ambingkan oleh ilusi yang dipantulkan algoritma. 

Jadi, tak perlu panik. Hanya perlu waspada. Sambil jangan lupa tetap ngopi. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: