Ketika Sekolah Menjadi Panggung Pembentukan Budaya Baru

Ketika Sekolah Menjadi Panggung Pembentukan Budaya Baru

ILUSTRASI Ketika Sekolah Menjadi Panggung Pembentukan Budaya Baru.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

SETIAP Juli, jutaan siswa di Indonesia memasuki gerbang sekolah dengan perasaan yang sama: antusias, cemas, sekaligus penuh harapan. Mereka mengenakan seragam baru, membawa perlengkapan belajar, dan bersiap memasuki lingkungan sosial yang belum mereka kenal. 

Masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) hadir sebagai ritus tahunan yang hampir tidak pernah dipertanyakan. 

Secara sosioantropologis, MPLS bukan sekedar kegiatan orientasi administratif, melainkan juga proses pembentukan identitas sosial yang menentukan bagaimana seseorang akan memahami dirinya sebagai bagian dari komunitas sekolah.

Berdasar pemikiran Arnold van Gennep, MPLS mencerminkan pola perubahan status seseorang yang dikenal sebagai rites of passages

Seorang siswa meninggalkan identitasnya sebagai murid sekolah sebelumnya, memasuki fase transisi melalui berbagai kegiatan pengenalan, lalu diterima sebagai anggota komunitas sekolah yang baru.

BACA JUGA:Simulasi Harta Karun dan Senam Ceria Warnai MPLS di Surabaya, Dibuat Seru dan Menyenangkan

BACA JUGA:Diawasi Langsung Sistem Kementerian, Dispendik Surabaya Pastikan MPLS Ramah Anak

Dalam praktiknya, makna sosial MPLS acap kali bergeser. Pada masa lalu, orientasi siswa identik dengan senioritas, perpeloncoan, suatu bentuk simbolis yang menegaskan relasi kuasa antara siswa lama dan siswa baru. 

Walaupun regulasi pemerintah telah melarang praktik-praktik tersebut, residu budaya tersebut belum sepenuhnya hilang. Di beberapa tempat, ia masih muncul dalam bentuk yang lebih halus seperti candaan yang merendahkan.

Fenomena itu memperlihatkan bahwa sekolah bukan hanya institusi pendidikan, melainkan juga arena produksi budaya. 

Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai ruang sosial tempat individu belajar mengenai aturan yang tidak tertulis, bagaimana berbicara, bersikap, menghormati otoritas, bahkan menentukan siapa yang dianggap ”layak” menjadi bagian dari kelompok MPLS menjadi salah satu mekanisme awal pewarisan budaya tersebut. 

BACA JUGA:MPLS Jatim 2026: 618 Ribu Siswa Baru Masuk Sekolah, Dindik Larang Keras Perpeloncoan

BACA JUGA:MPLS 2026 Resmi Dimulai, Tekankan Sinergi Sekolah dan Orang Tua

Sejalan dengan hal itu, Louis Althusser menyebut sekolah sebagai sense of belonging ideological state of aparatus, yakni institusi yang berfungsi menanamkan nilai-nilai dominan agar diterima sebagai sesuatu yang wajar oleh masyarakat. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: