Panggung Madas
ILUSTRASI Panggung Madas.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
ADA yang risau dengan fenomena mengemukanya identitas kesukuan di Surabaya. Itu setelah beberapa waktu terakhir muncul rentetan peristiwa menyangkut warga Madura asli di kota tersebut. Salah satu etnis yang berasal dari pulau terdekat Surabaya.
Ibarat pertunjukan, warga Madura sedang manggung di Surabaya. Melalui organisasi yang menamakan diri Madas. Yang dipanjangkan dengan Madura Asli Sedarah dan Madura Asli Serumpun. Ada juga Madas Nusantara.
Namun, dua yang pertama yang di baris depan. Mereka dikaitkan dengan peristiwa pengusiran dan penggusuran rumah nenek Elina, rebutan parkir Mie Gacoan, dan eksekusi gagal rumah yang jadi sekretariat Madas di kawasan Jalan Raya Darmo.
BACA JUGA:Kantor Ormas Madas Disegel Polrestabes Surabaya
BACA JUGA:Banyak Laka Akibat Tumpahan Garam dari Truk, Madas Demo Tutup Akses Suramadu
Mengapa tiba-tiba ormas berbasis etnis itu mewarnai panggung Surabaya dalam waktu terakhir? Apakah mencuatnya fenomena tersebut bisa mengganggu harmoni sosial di kota yang terkenal terbuka ini? Bagaimana arek Surabaya harus menyikapinya?
Sampean pasti tahu, Surabaya dikenal sebagai kota yang warganya keras dalam bahasa. Tapi, lumer dalam pergaulan. Mereka tidak gampang tersinggung. Bukan tipe sumbu pendek. Seduluran alias spirit persaudaraan membuat mereka tak gampang bergejolak.
Karena itu, jika sampai ada satu kelompok masyarakat –apalagi berbaju kesukuan– manggung di Surabaya, itu bukan fenomena biasa. Itu adalah fenomena sosial. Harus dibaca sebagai alarm. Lampu peringatan. Adakah itu sekadar letupan atau buatan?
Surabaya juga dikenal sebagai kota yang ramah terhadap keragaman etnis. Saya menyebutnya sebagai kota rujak ulek (rujak cingur). Atau, gado-gado. Dari berbagai bahan, tapi menyatu dan menjadi jenis kuliner yang enak. Berbagai etnis membaur menjadi satu. Bisa juga disebut kota campur aduk.
Banyak kampung multietnis di Surabaya. Ada Krembangan, Kapasan, Tambaksari, Wonokromo, dan masih banyak lagi. Di dalamnya hidup bersama warga dari banyak etnis: Jawa, Madura, Arab, Tionghoa, Bugis, dan Maluku. Jarang konflik. Mereka diikat dalam interaksi ekonomi, sosial, dan norma saling menghormati. Tak ada klaim ruang.
Tapi, dari beberapa kasus viral di media sosial, terjadi penonjolan nama komunitas dalam berbagai gesekan. Baik dimulai dari soal teguran maupun penguasaan aset ruang sebagai penyebabnya. Apalagi, diikuti dengan klaim menjaga harga diri maupun kehormatan kelompok.
Mengapa simbol identitas kolektif sekarang menyeruak ke permukaan? Tentu itu bukan kriminalitas. Bukan sesuatu yang dilarang. Tapi, seperti ada pergeseran mekanisme kontrol sosial. Dari nilai penghormatan di kampung dan hukum ke kelompok berbasis identitas.
Memang, apa yang terjadi belakangan belum sampai menimbulkan kerusakan relasi sosial. Namun, jika dibiarkan, itu bisa menjadi bom waktu. Bisa mengganggu modal dasar kehidupan warga Surabaya yang blak-blakan, tapi penuh dengan harmoni.
Yang menyenangkan, masih ada kerisauan yang diam. Itu membuktikan mayoritas warga Surabaya tak nyaman dengan pendekatan identitas yang keras. Hanya, banyak yang bingung harus bersikap apa. Jangan sampai kerisauan yang diam itu menjadi bahaya laten yang sulit kanal penyelesaiannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: