Para Martir

Para Martir

ILUSTRASI Para Martir.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

GERAKAN sosial-politik di Indonesia tidak lepas dari fenomena figur martir. Sepanjang sejarah, peristiwa politik besar yang mengguncang kekuasaan selalu dibayar dengan tumpahnya darah para martir.

Kematian para martir itu menjadi katalis emosional. Sebuah momentum dramatis yang mengubah akumulasi kekecewaan publik menjadi histeria massa dan amarah kolektif. 

Dari era gerakan Angkatan ’66, gerakan Reformasi 1998, hingga dinamika politik hari ini, jatuhnya korban martir menjadi penanda puncak konfrontasi berdarah antara negara dan masyarakat sipil.

Pada periode demonstrasi menentang Orde Lama 1966 sosok Arief Rahman Hakim, mahasiswa Universitas Indonesia (UI), menjadi martir setelah tewas tertembak saat demonstrasi menuntut Tri Tuntutan Rakyat (Tritura). 

Yakni, bubarkan PKI dan ormas-ormasnya, bersihkan Kabinet Dwikora dari unsur-unsur G-30-S/PKI, dan turunkan harga barang atau perbaikan ekonomi. 

BACA JUGA:Affan Kurniawan sang Martir

BACA JUGA:”Martir” Damai Sepak Bola

Peristiwa berdarah itu menjadi momen simbolisme ketika jaket almamater UI milik Arief yang bersimbah darah diarak keliling kota. 

Momen tersebut memicu histeria publik yang luas. Sisa-sisa legitimasi rezim Soekarno rontok sehingga memuluskan jalan transisi kekuasaan kepada Soeharto.

Skenario tersebut kembali terulang tiga dasawarsa berikutnya menjelang runtuhnya rezim Orde Baru pada Mei 1998. Demonstrasi mahasiswa Trisakti yang menuntut reformasi melahirkan martirnya sendiri. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka tewas tertembak secara misterius di kampusnya sendiri. 

Tragedi Trisakti memicu kemarahan publik dalam skala yang lebih luas, menyulut kerusuhan massal, dan akhirnya memaksa Soeharto mengundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa.

Fenomena martir muncul lagi di era pemerintahan Prabowo Subianto. Beda dengan martir sebelumnya, martir kali ini datang dari rakyat biasa. Pengemudi ojek online Affan Kurniawan dan penjual kaca di pinggir jalan Bambang Setiawan. Keduanya tewas dalam demonstrasi yang berujung rusuh.

Affan meninggal karena digilas mobil rantis pada demonstrasi 25 September 2025. Bambang, pedagang di daerah Pejompongan, Jakarta, tewas lantaran dianiaya sekelompok orang yang diduga anggota GRIB Jaya. 

Bambang, 60 tahun, warga lokal, setiap hari berjualan di sekitar tempat tinggalnya. Hari itu ia nahas. Ketika sedang menunggui dagangannya, ia didatangi sekelompok orang yang menganiayanya. Bambang tewas. Ia menjadi martir yang tidak dikenal. Histeria massa menuntut GRIB Jaya dibubarkan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: