Para Martir
ILUSTRASI Para Martir.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Affan dan Bambang menjadi ”unlikely hero’’, pahlawan yang tidak terduga. Keduanya bisa menjadi pemicu kerusuhan luas yang membahayakan rezim. Namun, rezim sudah membaca pola gerakan perlawanan. Masalah Affan Kurniawan diselesaikan secara kekeluargaan. Hadiah rumah kepada keluarga Affan menjadi pemadam kemarahan yang efektif.
Setahun kemudian, ketika sekelompok orang ingin mengadakan ”haul”, peringatan satu tahun kematian Affan, orang tua Affan segera membuat pernyataan agar publik tidak mengungkit-ungkit lagi kematian Affan.
Ada pergeseran pola represi dan karakter martir dalam tiga era gerakan itu. Pada era 1966 dan 1998 martir didominasi gerakan mahasiswa berpakaian almamater, yang terorganisasi di pusat-pusat pergerakan akademik.
Pada era sekarang spektrum martir melebar ke kelompok masyarakat sipil dan pekerja informal. Hal tersebut menjadi indikator bahwa ketidakpuasan sosial-ekonomi kini dirasakan langsung oleh masyarakat kelas bawah.
Aktor dan mekanisme kekerasan juga bergeser. Pada 1966 dan 1998 represi bertumpu pada peluru tajam aparat keamanan negara. Saat ini eskalasi kekerasan melibatkan kombinasi antara aksi reaktif alat negara dan aktor nonnegara atau ormas paramiliter.
Peta kekuatan politik juga bergeser. Pada 1966 dan 1998 tekanan publik yang dipicu oleh kematian para martir berhasil meretakkan konsolidasi elite di pucuk kekuasaan.
Sebaliknya, saat ini struktur konsolidasi kekuasaan pemerintah sangat kuat dan stabil, sedangkan posisi bargaining masyarakat sipil terfragmentasi dan cenderung melemah.
Kondisi tersebut melahirkan spekulasi dan pertanyaan publik mengenai daya tahan pimpinan nasional hingga akhir masa jabatan 2029. Spekulasi berkisar pada masalah kesehatan Prabowo dan kondisi geoekonomi dan geopolitik internasional.
Munculnya pernyataan Budi Arie Setiadi agar kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bersiap menghadapi skenario politik jika terjadi dinamika luar biasa sebelum 2029 menjadi indikasi adanya keretakan di internal rezim. Retakan itu bisa membuat pertahanan rezim runtuh setiap saat.
Sejarah pergerakan Indonesia menunjukkan bahwa martir kerap menjadi faktor tak terduga yang bisa menjadi pemicu keruntuhan rezim. Meski pemerintah saat ini tampak kokoh dengan dukungan koalisi politik yang dominan, kematian warga negara dalam panggung gerakan sosial bisa menyimpan potensi eksplosif.
Kekuatan politik bisa dipetakan. Namun, akumulasi kemarahan publik, yang disulut oleh tumpahnya darah di jalanan, punya cara tersendiri untuk memicu kejatuhan sebuah rezim. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: