Teater Kolosal Merah Putih Bertanya Ingatkan Generasi Muda pada DNA Surabaya, Pejuang dan Pemberani

Teater Kolosal Merah Putih Bertanya Ingatkan Generasi Muda pada DNA Surabaya, Pejuang dan Pemberani

PEROBEKAN kain biru dari bendera Belanda menjadi peristiwa heroik yang menegaskan DNA Arek-arek Suroboyo sebagai pejuang dan pemberani. Teater kolosal berlangsung di Jalan Tunjungan pada Sabtu pagi, 26 September 2026.-Boy Slamet-Harian Disway

Kemerdekaan Indonesia tidak muncul begitu saja. Ada perjuangan dan pengorbanan yang mewujudkannya. Melalui teater kolosal di jantung Kota Surabaya, semangat itu digelorakan lagi. 

JAM menunjukkan pukul 07.37 WIB. Sabtu pagi itu, 26 September 2026, jalanan Surabaya relatif lebih lengang. Namun, area teatrikal Merah Putih Bertanya di depan Hotel Majapahit penuh sesak. Seakan-akan, seluruh warga Kota Pahlawan tumplak di sana.

Segerombolan orang berteriak riuh sambil mengusung poster bertulisan "Surabaya Gak Wedi". Hari itu, warga yang menonton teater kolosal besutan Heri Lentho tak kalah heboh dari para pemerannya. Sebagian membawa spanduk dan memakai atribut bernuansa kemerdekaan. 

"Merdeka! Merdeka! Merdeka!" teriak Residen Soedirman memecah keheningan pagi. Sang tokoh diperankan Wali Kota Eri Cahyadi. Dalam teater kolosal Merah Putih Bertanya itu, Heri Lentho tak hanya menulis naskah. Ia juga menyutradari aksi teatrikal yang melibatkan banyak pemuda dan pelajar itu.

BACA JUGA:Teatrikal Kolosal Merah Putih Bertanya Jaga Semangat Anak Muda Surabaya dalam Mengisi Kemerdekaan

BACA JUGA:Teatrikal Surabaya Juang 2025 Angkat Peran Penting Bu Dar Mortir dan Lukitaningsih


MERAH PUTIH berkibar dengan gagah. Para pemain teater kolosal Merah Putih Bertanya dan warga yang memadati Jalan Tunjungan menyaksikan dengan khidmat pada 26 September 2026.-Boy Slamet-Harian Disway

Heri sengaja ingin menghidupkan kembali peristiwa perobekan bendera oleh Arek-arek Suroboyo. Ia mendapuk Eri berorasi dalam pertunjukan teater di hotel bersejarah di Jalan Tunjungan tersebut. Sang wali kota menyampaikan pesan kemerdekaan dengan penuh semangat. 

"Arek-arek Suroboyo merobek warna biru pada bendera Belanda dan mengibarkan bendera Merah Putih. Yang mereka robek bukan sekadar warna pada selembar kain. Mereka merobek kesombongan penjajahan, menegakkan martabat Indonesia," ucapnya dengan lantang.

Ia menegaskan bahwa Merah Putih bukan sekadar bendera yang harus dihormati. Merah Putih adalah janji-janji untuk menjaga persatuan, janji untuk menghormati perbedaan, janji untuk bekerja bagi kepentingan rakyat. 

"Jika dahulu para pejuang melawan penjajahan dengan keberanian dan pengorbanan, maka perjuangan kita hari ini adalah menghadapi tantangan zaman," lanjutnya. 

BACA JUGA:Parade Surabaya Juang 2025 Angkat Sosok Laskar Putri Lukitaningsih, Rini Eri Cahyadi Tampil sebagai Pemeran Utama

BACA JUGA:Catatan dari Parade Surabaya Juang 2023: Wali Kota Terlambat, Spirit Kepahlawanan Hilang


WALI KOTA SURABAYA Eri Cahyadi menyampaikan orasi kemerdekaan dalam teater kolosal Merah Putih Bertanya 26 September 2026. Eri (dua dari kiri) berperan sebagai Residen Soedirman.-Boy Slamet-Harian Disway

Belakangan, tantangan yang dihadapi rakyat Indonesia lebih banyak mengguncang hati nurani. Generasi muda dihadapkan pada fakta-fakta pahit saat kejujuran kalah oleh kepentingan pribadi, saat hukum gagal mewujudkan keadilan, saat korupsi menginjak-injak hak rakyat, saat kebencian memecah persaudaraan. Maka, sesungguhnya perjuangan belum usai. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: