Strategi itu menyerupai apa yang disebut sebagai energy corridor doctrine, yaitu stabilitas hegemoni global yang bergantung pada kemampuan menjaga aliran energi yang tetap dapat dikontrol.
BACA JUGA:Kapal Tunda UAE Diserang di Selat Hormuz, 3 Kru WNI Hilang
BACA JUGA:2 Kapal Tanker Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz, Pemerintah Pastikan Awak Aman
Venezuela menyediakan cadangan jangka panjang untuk menyeimbangkan pasar, sedangkan tekanan terhadap Iran bertujuan meminimalkan risiko gangguan pada celah sempit Selat Hormuz yang dapat digunakan sebagai alat tekanan geopolitik.
Dengan kata lain, yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar konflik regional, melainkan juga arsitektur kekuasaan energi abad ke-21, sebuah upaya memastikan bahwa fluktuasi energi global tidak lagi ditentukan oleh negara penantang, melainkan oleh sistem yang berada dalam orbit ekonomi dan keamanan Paman Sam.
URAT NADI ENERGI DUNIA
Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran. Ia adalah chokepoint energi paling kritis di planet ini. Fakta-fakta aliran pengapalan energi dunia berada di kisaran 20-21 juta barel minyak per hari melewati selat sempit tersebut.
Hal itu setara dengan kurang lebih 20 persen dari konsumsi minyak global. Perdagangan minyak laut dunia melewati jalur itu sebesar 25 persen. Perdagangan LNG global, sebesar 20 persen juga bergantung pada Selat Hormuz.
BACA JUGA:Fakta-Fakta Selat Hormuz, Jalur Laut yang Mengendalikan Energi Global
BACA JUGA:Iran Blokade Selat Hormuz, Tiga Kapal Tanker Dihantam Proyektil 'Tidak Dikenal'
Hingga 84 persen ekspor minyak yang melintasi Hormuz menuju Asia dengan nilai ekonomi yang melintas diperkirakan mencapai sekitar USD600 miliar per tahun hanya dari minyak.
Artinya, Selat Hormuz bukan hanya jalur regional Timur Tengah, melainkan juga fondasi energi bagi ekonomi Asia dan industri global. Ekonom energi sering menyebutnya sebagai energy bloodstream of globalization.
Untuk memahami signifikansinya, perlu dibandingkan dengan sejumlah chokepoint lain.
Pertama, Selat Malaka merupakan rute pengapalan penting untuk barang manufaktur dan energi yang mencakup 23,7 persen dari perdagangan laut global.
Kedua, Terusan Suez yang merupakan jalur pengiriman kontainer dan energi sebesar 12 persen perdagangan global.
Ketiga, Selat Bab El-Mandeb yang berada di Yaman merupakan jalur yang menghubungkan Asia-Eropa dengan besaran volume 8,7 persen melalui perdagangan laut. Dari perbedaan krusial itu, dapat ditarik gambaran bahwa Selat Malaka dan Terusan Suez sangat penting untuk jalur pengapalan barang.