JAKARTA, HARIAN DISWAY - Masyarakat Bali terkenal mengusung filosofi Tri Hita Karana. Sebuah konsep yang berprinsip menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam.
Maka, ketika doa-doa dipanjatkan di Pura Kancing Gumi, Petang, Kabupaten Badung, masyarakat di kawasan Hutan Mahawana Basuki Besakih mengimbanginya dengan aksi nyata.
Di lokasi itu, ada sebuah hutan buatan yang merupakan upaya reforestasi pasca-erupsi Gunung Agung pada 2017. Hutan Lestari yang diinisiasi Pertamina itu sukses menghijaukan kembali lereng yang sempat mati suri. Sekaligus menghidupkan kembali perekonomian warga.
Mereka dibina oleh I Nyoman Artana, pria di balik transformasi di lereng Gunung Agung tersebut. Ia menegaskan pentingnya menjaga Besakih sebagai Huluning Bali Rajya atau hulu dari Pulau Dewata.
BACA JUGA:Pertamina Pastikan Stok BBM Lebaran 2026 Aman, Cadangan Nasional Tembus 28 Hari
BACA JUGA:Pertamina Bagikan Tips Hemat LPG saat Lebaran 2026, Bisa Mulai dari Dapur Rumah
"Mengelola lingkungan harus dimulai dari hulu. Jika lokasi ini tidak dipelihara dengan baik, Bali akan rentan terhadap bencana dan perubahan iklim," ungkap Nyoman.
Hasil dari menjaga "hulu" itu berbuah manis. Kelompok binaan Nyoman kini mampu memanen 100 hingga 150 kg madu per tahun. Dengan harga jual mencapai Rp500.000 per liter untuk madu kelanceng yang berkhasiat tinggi.
Warga desa di lereng Gunung Agung menunjukkan peternakan lebah binaan Pertamina.-Pertamina-
Bukan itu saja. Geliat wisata alam di lokasi tersebut melonjak drastis. Pendapatan kelompok wisata mencapai Rp120 juta per bulan, sekaligus membuka lapangan kerja bagi puluhan warga.
Semangat menjaga alam itu pun bergema hingga ke tanah Lampung. Di Ulubelu, seorang pria bernama Wastoyo menjadi saksi hidup bagaimana hutan bisa mengubah karakter seseorang.
BACA JUGA:Pertamina Siapkan Strategi Hadapi Krisis Global, Pastikan Pasokan BBM dan LPG Tetap Aman
BACA JUGA:Kisah Suhur Lebaran tanpa Keluarga di Kilang Balongan Pertamina, Demi Energi Indonesia Tetap Menyala
Jika dulu hutan adalah medan perburuan dan sasaran gergaji mesin, kini hutan adalah rumah yang ia proteksi dengan sepenuh hati.
"Dulu, menebang pohon adalah cara instan kami untuk menyambung hidup karena ketidaktahuan. Kami terjebak dalam siklus perusakan demi sesuap nasi," kenang Wastoyo.