Ketika Perang Tak Mengenal Musim Semi

Selasa 24-03-2026,20:27 WIB
Oleh: M. Ayub Mirdad


M. Ayub Mirdad

PADA momentum ini Nowruz, tahun baru Persia, yang jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, dunia kembali dihadapkan pada ironi yang sulit diabaikan. Di satu sisi, sebuah peradaban kuno bersiap merayakan momen pembaruan, harapan, dan kehidupan baru. Di sisi lain, konflik dan ketegangan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran justru terus berlanjut tanpa tanda jeda. Pertanyaannya sederhana, namun sarat makna: apakah dunia masih memiliki ruang bagi kemanusiaan di tengah logika kekuasaan?

Nowruz bukan sekadar pergantian kalender. Ia adalah simbol peradaban. Dirayakan selama lebih dari tiga milenium, Nowruz menandai datangnya musim semi—kemenangan cahaya atas kegelapan, kehidupan atas kematian. Dalam tradisi Nowruz, keluarga berkumpul, rumah dibersihkan, meja Haft-Seen disiapkan dengan penuh makna simbolik, dan masyarakat merefleksikan masa lalu sembari menyambut masa depan. Ini adalah momen rekonsiliasi, bukan hanya antarindividu, tetapi juga antara manusia dengan alam dan sejarahnya.

Namun, perayaan yang sarat makna itu kini berada dalam bayang-bayang konflik geopolitik. Ketegangan antara Iran di satu sisi, serta Amerika Serikat dan Israel di sisi lain, merupakan akumulasi panjang dari rivalitas strategis, konflik ideologis, dan pertarungan pengaruh di Timur Tengah. Eskalasi yang terus terjadi menjelang Nowruz menghadirkan dimensi baru: absennya sensitivitas terhadap nilai-nilai kultural dan kemanusiaan.

Dalam kajian hubungan internasional, terdapat konsep yang sering diabaikan dalam praktik, yakni normative restraint, pengendalian diri berbasis norma. Sejarah mencatat bahwa bahkan di tengah perang, terdapat momen-momen tertentu di mana pihak-pihak yang bertikai memilih untuk menahan diri. Gencatan senjata saat hari raya keagamaan, koridor kemanusiaan, hingga jeda simbolik merupakan bagian dari tradisi panjang peradaban manusia. Ini bukan soal kelemahan, melainkan soal kekuatan moral dan legitimasi.

BACA JUGA:Respons Klaim Akhir Perang Iran, Harga Saham Naik, Minyak Turun

BACA JUGA:Donald Trump Melunak, Siap Akhiri Perang Iran

Lebih dari itu, tekanan yang terus berlanjut pada saat perayaan justru dapat memperkuat kohesi internal masyarakat Iran. Sejarah menunjukkan bahwa tekanan eksternal sering kali menjadi katalis bagi solidaritas domestik. Serangan yang dilakukan menjelang atau saat Nowruz dapat memperkuat narasi bahwa Iran sedang menghadapi ancaman eksistensial dari luar, sebuah narasi yang justru menguntungkan rezim.

Dimensi lain yang tidak kalah penting adalah persepsi global. Dalam era informasi saat ini, perang tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga di ruang opini publik. Negara yang mampu menunjukkan empati dan penghormatan terhadap budaya akan memiliki keunggulan moral di mata dunia. Sebaliknya, mengabaikan momen penting seperti Nowruz dapat memperkuat persepsi bahwa konflik ini mencerminkan ketidakpedulian terhadap nilai-nilai universal, yang dalam jangka panjang menggerus legitimasi dan memperumit upaya diplomasi.

Secara pribadi, saya merasakan dimensi itu dengan sangat nyata. Sudah enam tahun saya tidak merayakan Nowruz sejak 2020. Ketidakhadiran tersebut bukan hanya soal tidak mengikuti sebuah tradisi, tetapi juga tentang terputusnya hubungan dengan sebuah momen yang sarat makna. Inilah yang terjadi ketika konflik berkepanjangan menginterupsi kehidupan normal masyarakat: tradisi terhenti, identitas terganggu, dan makna kolektif perlahan terkikis.


PEREMPUAN TEHERAN melihat-lihat bunga di Pasar Tajrish, Teheran, 19 Maret 2026.-AFP-

Nowruz menawarkan sebuah momen refleksi, bukan hanya bagi masyarakat Iran, tetapi juga bagi komunitas internasional. Pada akhirnya, pertanyaan yang harus dijawab bukan hanya tentang strategi, tetapi tentang nilai: apakah dunia yang sepenuhnya tunduk pada logika kekuasaan, atau dunia yang masih memberikan ruang bagi tradisi dan kemanusiaan? Menjeda perang selama Nowruz mungkin tidak akan mengakhiri konflik. Namun, ia dapat menjadi langkah kecil yang bermakna, pengingat bahwa bahkan di tengah ketegangan global, kemanusiaan masih memiliki tempat. (*)

*) Dosen Hubungan Internasional, FISIP, Unair. Koordinator Laboratorium Center for Strategic and Global Studies (CSGS)

 

Kategori :