Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (1): Kampung Batik Jetis, Pebatik Muda Tinggal Satu-satunya

Senin 30-03-2026,09:00 WIB
Reporter : Guruh Dimas Nugraha
Editor : Guruh Dimas Nugraha

Sebagai generasi milenial yang hidup di era digital, Rinal melakukan banyak inovasi. Pembukuan usahanya lebih terperinci.

Sisi fotografi produk juga cukup maksimal. Demikian pula dari segi promosi. Ia pun menjaring beberapa reseller. Merekalah yang bergerak memasarkan produk Batik Namiroh lewat e-commerce.

"Jadi, kami tidak memasarkan produk lewat e-commerce. Para reseller itu yang bekerja. Jika kami ikut-ikutan, sama saja mematikan rezeki para reseller itu. Selebihnya, kami memiliki pelanggan dari berbagai daerah. Seperti Madura, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Aceh, dan lain-lain," ungkapnya. 


Jumaiyah, salah seorang karyawan Batik Namiroh mengerjakan batik menggunakan teknik canting.-Boy Slamet-Harian Disway

Batik Namiroh pun merupakan satu-satunya usaha batik di Jetis yang menerima program magang. "Rutin. Setiap tahun pasti ada. Mereka biasanya bertugas di bagian manajemen atau promosi. Kalau mahasiswa dari jurusan seni, pasti ikut membatik," ujar Rinal.

BACA JUGA:Hari Batik Nasional 2025, Gubernur Khofifah Ajak Generasi Muda Jadikan Batik Simbol Gaya Berbudaya

BACA JUGA:5 Style Batik Kekinian untuk Hari Batik Nasional 2025: Modis, Trendi, dan Tetap Berbudaya

Meski begitu, pemasukan yang didapatkan cenderung tetap. Tak naik atau tidak turun juga. Jumlah pelanggannya pun tak bertambah.

Ada berbagai hal penyebabnya. Seperti minimnya dukungan Pemerintah Kota Sidoarjo. Ongkos produksi tinggi. Tren batik printing. Keterbatasan lahan. Dan lain-lain.

Kendala itu yang membuat jumlah pengusaha batik di Jetis menurun. Semakin tajam dari waktu ke waktu. Dari lima puluh, tinggal lima. Setelah lima, sayonara... (*)

*) Jejak dakwah Islam dan nama besar masa silam, baca besok...

Kategori :