Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (1): Kampung Batik Jetis, Pebatik Muda Tinggal Satu-satunya

Senin 30-03-2026,09:00 WIB
Reporter : Guruh Dimas Nugraha
Editor : Guruh Dimas Nugraha

Ma'ruf, salah seorang pekerja, mengangkat dan menurunkan kain berukuran besar. Ia menggunakan dua bilah kayu.

Asap mengepul dari kain tersebut. Tampak berat. Namun, Ma'ruf seperti enteng saja mengolah kain itu. Maklum, karena ia sudah bekerja puluhan tahun di Batik Namiroh. Bahkan sejak kecil. Jadi, sudah terbiasa. 

BACA JUGA:Bikin Batik Surabaya Populer lewat Talkshow dan Draping di Loka Batik 2025

BACA JUGA:Gelar Wicara Bahaya Zat Kimia terhadap Kesehatan Pengrajin Batik Warnai Loka Batik 2025

"Dulu, saya ikut neneknya Rinaldi. Namanya Mbah Musyafa'ah. Saya lupa berapa usia saya saat itu. Pokoknya usia sekolah. Kerja sambil bantu-bantu orang tua," ujar pria 72 tahun itu.

Di sudut lain, di dekat pintu belakang, dua perempuan melakukan pekerjaan mencanting. Salah satunya adalah Ratna Chabiba, bibi Rinal sendiri.

"Ibunya Rinal itu adik saya. Setelah pensiun dari mengajar sebagai guru pada 2019, saya ikut membantu di sini. Untuk mengisi waktu," ujarnya.

Dia membuat motif batik Sekar Jagad. Paduan warna biru navy dan hijau. Motif itu yang lumayan digemari pembeli.

BACA JUGA:Batik Tulis Tenun Gedhog Tuban Raih IG Pertama di Jatim untuk Produk Kerajinan Nonpangan

BACA JUGA:Wujudkan Kolaborasi AI dan Warisan Tradisi, Mahasiswa Petra Bikin Batik WR Supratman

Khususnya para pelanggan dari Pulau Madura. "Mereka suka warna-warna cerah. Ngejreng," ujar perempuan 75 tahun itu.

Pekerja lainnya, Jumaiyah, mencanting kain dengan lebar 105cm x 200cm. Motifnya lebih detail. Canting yang digunakan pun lebih kecil.

Termasuk outline motif yang dibuat dengan cermat. Terdapat gambar burung merak. Juga titik-titik yang tersebar di beberapa bagian.

"Titik-titik ini namanya 'cecekan'. Selalu ada dalam setiap motif batik khas Sidoarjo. Kalau yang detail begini bisa dijual dengan harga Rp1,5 juta. Kalau yang biasa, paling murah Rp250 ribu," terang perempuan yang telah bekerja di Batik Namiroh sejak tahun '80an itu.

BACA JUGA:Batik Tulis Ghentongan Selangkah Lagi Raih Sertifikat Indikasi Geografis

BACA JUGA:Mengenal Filosofi Kain Tradisional Indonesia: dari Batik, Tenun, hingga Lurik

Kategori :