Rupiah Terancam Tembus Rp 18.000, Analis: Perlu Intervensi dan Pemangkasan Anggaran Non-Esensial

Rupiah Terancam Tembus Rp 18.000, Analis: Perlu Intervensi dan Pemangkasan Anggaran Non-Esensial

Ilustrasi dampaknya terus melemahnya nilai tukar Rupiah.-Foto: Freepik/8photo-

JAKARTA, HARIAN DISWAY – Nilai tukar rupiah terus dibayangi tekanan berat di tengah ketidakpastian global, Jumat, 15 Mei 2026. 

Pada fase perdagangan hari ini, rupiah tercatat mengalami pelemahan cukup signifikan. Yakni Rp 17.600 per dollar USD. 

Jika tidak ada perubahan signifikan pada faktor internal maupun eksternal, mata uang Garuda diprediksi bisa menyentuh level psikologis baru di angka Rp 18.000 per dolar AS dalam satu bulan ke depan.

Kondisi itu disampaikan oleh Analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong. Yang menyebutkan bahwa pergerakan rupiah saat ini berada dalam tren pelemahan bertahap. "Dengan kecepatan pelemahan sekarang, rupiah bisa menyentuh Rp 18.000 dalam sebulan ke depan jika tidak ada perubahan perkembangan, baik dari sisi internal maupun eksternal," ujar Lukman dalam keterangannya kepada Harian Disway, Jumat sore, 15 Mei 2026.

BACA JUGA:Rupiah Tembus Rp17.500 per USD, Purbaya: Nggak Perlu Panik, Nggak Sejelek 98!

BACA JUGA:Pengusaha Apresiasi Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Namun Peringatkan Melemahnya Rupiah 

Menurut Lukman, skenario buruk tersebut hanya bisa dihindari jika terjadi perubahan peta stabilitas ekonomi. Di kancah global, pembukaan kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz menjadi kunci untuk meredam lonjakan harga minyak dan ketegangan geopolitik yang selama ini menekan mata uang negara berkembang.

Dari sisi domestik, Lukman menekankan perlunya langkah konkret dari pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Ia menyarankan beberapa poin krusial yang harus segera direspon pemerintah. Pertama soal suku bunga. Lukman berharap Bank Indonesia segera menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik.

Kedua, soal efisiensi anggaran. Pemerintah perlu melakukan langkah darurat dengan mengurangi belanja negara. Lukman menyoroti perlunya pemerintah memilah anggaran mana yang bersifat non-esensial untuk dipangkas demi menjaga stabilitas fiskal.

Lalu saat disinggung apa saja anggaran non-esensisal itu, Lukman menjawab singkat. "Pemerintah yang lebih tahu anggaran mana yang non-esensial yang bisa dikurangi untuk menahan beban depresiasi ini," tambahnya.

BACA JUGA:Inilah Tujuh Jurus BI Jaga Rupiah

BACA JUGA:Rupiah Melemah ke Rp17.400 per Dolar AS, Bank Indonesia Intervensi Pasar

Yang jelas, pelemahan rupiah yang berkepanjangan mulai memberikan dampak rembesan (spillover) ke masyarakat. Lukman memprediksi akan terjadi kenaikan harga barang-barang yang bergantung pada impor. Baik dalam bentuk barang jadi maupun bahan baku industri.

Kondisi iru dikhawatirkan akan memicu stagflasi skala kecil. Di mana harga barang melonjak namun permintaan pasar justru melemah akibat tergerusnya daya beli masyarakat. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: