Hasilnya, waktu charging lebih singkat. Mulai dari 0% ke 80% dalam hitungan menit. Dengan suhu perangkat yang tetap terkendali.
Pengguna tidak perlu lagi memilih antara kecepatan dan keamanan. Keduanya dapat diraih secara bersamaan.
3. Keamanan Tinggi: Minim Risiko Overheat dan Ledakan
Material padat pengganti elektrolit cair menghilangkan risiko kebocoran, kebakaran, atau ledakan.--Pinterest
Salah satu kelemahan baterai lithium-ion konvensional adalah penggunaan elektrolit cair yang mudah terbakar.
BACA JUGA:7 Rekomendasi HP Bodi Tipis dengan Baterai 6000 mAh ke Atas
BACA JUGA:7 HP Flagship Killer Harga 3 Jutaan, Paling Worth It Buat Kaum Mendang-Mending
Dalam kondisi ekstrem seperti kerusakan fisik, korsleting, atau paparan suhu tinggi, risiko kebocoran, kebakaran, atau ledakan tetap ada.
Baterai solid-state menghilangkan komponen cair sepenuhnya. Material padat yang digunakan jauh lebih stabil secara kimiawi, tidak mudah terbakar, dan lebih tahan terhadap deformasi fisik.
Bagi pengguna, ini berarti ketenangan pikiran ekstra. Terutama bagi orang tua dengan anak kecil atau profesional yang sering bepergian.
4. Degradasi Lebih Lambat: Umur Pakai Lebih Panjang
Baterai solid-state mempertahankan 80-90% kapasitas asli bahkan setelah 3-4 tahun pemakaian intensif.-Andrea Preisser-Pinterest
Salah satu frustrasi umum yang dialami pengguna smartphone adalah baterai yang "drop" setelah 1-2 tahun pemakaian. Daya tahan menyusut, perangkat cepat panas, dan performa menurun.
BACA JUGA:Samsung Galaxy A17 5G: HP Serba Guna Harga Rp 3,6 Jutaan
BACA JUGA:7 HP Foldable untuk Menyambut 2026
Baterai solid-state menunjukkan tingkat degradasi yang jauh lebih lambat dalam pengujian laboratorium. Siklus charge-discharge lebih stabil.
Baterai dapat mempertahankan 80-90% kapasitas aslinya. Bahkan setelah 3-4 tahun digunakan dalam pemakaian intensif.
Implikasinya, smartphone tidak perlu diganti hanya karena baterai sudah lemah. Itu mendukung keberlanjutan dan penghematan jangka panjang.