Kita berlatih memahami bahwa jabatan dan kepemimpinan bukan hak istimewa, melainkan titipan yang harus dipertanggungjawabkan.
Puasa juga melatih empati sosial. Lapar dan dahaga mengingatkan pada derita kebanyakan kaum miskin, menumbuhkan kepekaan pada ketidakadilan. Kita tidak memperlakukan derita kaum miskin hanya dengan takaran statistika.
Ia menanamkan disiplin dan keberanian moral, berani mengakui salah, meminta maaf, dan memperbaiki kebijakan yang keliru, tidak silau pujian, tidak tergoda keserakahan, dan tidak dikuasai ambisi.
Puasa melatih empati dan solidaritas sosial. Ibadah itu membangun kebersamaan dan menjadi pengalaman bersama. Orang kaya merasakan lapar, orang miskin juga merasakan lapar. Namun, perbedaannya menjadi jelas terlihat.
Bagi orang kaya, lapar hanya berlangsung sampai waktu berbuka, tetapi bagi orang miskin, lapar adalah kenyataan hidup sehari-haru yang terus dihadapi bahkan setelah berbuka dan Ramadan berakhir.
Data terbaru (September 2025) dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia masih mencapai sekitar 23,36 juta orang atau sekitar 8,25 persen dari total penduduk. Angka itu menunjukkan bahwa terdapat jutaan orang yang setiap hari masih harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Bagi mereka, rasa lapar bukanlah latihan spiritual tahunan. Lapar adalah realitas hidup yang mereka hadapi setiap hari. Di titik itulah puasa sebenarnya mengajarkan sesuatu yang sangat penting, yaitu pentingnya merasakan penderitaan kaum papa dan kepedulian sosial.
Al-Qur’an juga memberikan peringatan yang sangat jelas mengenai hal ini. Dalam Surah Al-Ma’un disebutkan bahwa salah satu ciri orang yang mendustakan agama adalah mereka yang mengabaikan anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.
Ayat itu menegaskan bahwa keberagamaan tidak hanya diukur dari ibadah ritual, tetapi juga dari kepedulian terhadap kelompok yang lemah.
Di sisi lain, sosiolog Jerman Max Weber pernah menjelaskan bahwa nilai-nilai agama memiliki kemampuan membentuk tindakan sosial manusia. Agama tidak hanya mengatur hubungan spiritual seseorang dengan Tuhan, tetapi juga memengaruhi cara seseorang bertindak dalam kehidupan sosial.
Jika gagasan Weber itu kita tarik ke konteks Ramadan, Ramadan seharusnya tidak hanya dipahami sebagai pencapaian spiritual yang bersifat individual, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran sosial yang melatih kepekaan terhadap kehidupan orang lain.
Tidak mengherankan jika selama Ramadan solidaritas sosial meningkat signifikan. Ramadan seolah menjadi momentum yang memperlihatkan wajah asli masyarakat kita, yaitu tradisi berbagi yang kuat dan kepedulian terhadap sesama. Tidak mengherankan jika Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kedermawanan yang tinggi. Itu adalah modal sosial yang sangat besar yang bisa kita maksimalkan.
Modal sosial seperti itu memiliki potensi besar untuk membantu mengatasi berbagai persoalan kemanusiaan. Dalam skala global, upaya mengatasi persoalan-persoalan tersebut bahkan dirumuskan dalam agenda pembangunan dunia yang dikenal sebagai sustainable development goals (SDGs) yang diinisiasi PBB.
Namun, tujuan seperti pengentasan kemiskinan, pengurangan ketimpangan sosial, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak mungkin hanya bergantung pada kebijakan negara. Agenda besar tersebut juga membutuhkan partisipasi sosial masyarakat.
Di titik itulah nilai-nilai yang dilatih selama Ramadan bisa menjadi modal besar. Praktik zakat, sedekah, dan berbagai gerakan solidaritas sosial yang tumbuh di masyarakat pada dasarnya merupakan bentuk nyata dari kontribusi warga terhadap tujuan besar pembangunan manusia.
Dalam perspektif pemikiran Islam, gagasan itu juga sejalan dengan konsep maqāṣid al-syarī‘ah, yaitu tujuan-tujuan utama dari syariat Islam yang menekankan perlindungan terhadap kehidupan manusia, kesejahteraan ekonomi, keberlanjutan keluarga, dan kemaslahatan masyarakat.