Dengan kata lain, nilai-nilai yang dilatih selama Ramadan tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga mengandung visi sosial yang sangat kuat bagi terciptanya masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.
KESALEHAN SOSIAL PASCA-RAMADAN
Pada akhirnya, Ramadan bukan sekadar pengalaman spiritual selama satu bulan. Ia adalah proses pembelajaran tentang pengendalian diri, tentang empati, dan tentang kepedulian terhadap sesama.
Dari sini, muncul pertanyaan sederhana, nilai apa yang kita bawa setelah Ramadan berlalu? Bagaimana merevitalisasi penguatan kesalehan sosial sehingga bisa menjadi modal sosial yang aktual dan menggerakkan.
Kesalehan sosial berarti keberagamaan tidak hanya diukur dari ibadah personal, tetapi juga tecermin dalam kepedulian terhadap persoalan sosial di sekitar kita. Pemikir muslim kontemporer Ali Shariati pernah mengingatkan bahwa agama seharusnya menjadi kekuatan yang mendorong perubahan sosial.
Agama tidak cukup hanya melahirkan individu yang saleh secara ritual, tetapi juga harus melahirkan masyarakat yang lebih adil dan manusiawi.
Pesan yang sama ditegaskan Nabi Muhammad SAW dalam hadis sahih yang diriwayatkan Muslim bahwa tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
Hadis itu kian menguatkan bahwa iman tidak hanya diukur dari hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga dari hubungan horizontal dengan sesama manusia.
Jika kita melihat realitas sosial hari ini, pesan tersebut terasa sangat relevan. Kemiskinan masih menjadi persoalan nyata yang tidak berkesudahan. Ketimpangan sosial masih terasa di berbagai wilayah.
Meskipun di ruang digital, kita sering menyaksikan berbagai bentuk ekspresi kepedulian sosial yang cepat viral, tetapi sering kali juga cepat dilupakan. Padahal, seharusnya kepedulian sosial tidak berhenti pada rasa iba sesaat, tetapi membutuhkan komitmen yang panjang dan berkelanjutan.
Sesungguhnya ukuran keberhasilan puasa Ramadan bukan hanya pada seberapa banyak ibadah yang kita lakukan selama satu bulan, tetapi pada apa yang berubah setelah Ramadan berakhir.
Jika Ramadan adalah madrasah sosial, pelajaran yang paling berharga darinya adalah lahirnya kesalehan sosial berkelanjutan. Tumbuhnya kesadaran bahwa keberagamaan tidak hanya mendekatkan manusia kepada Tuhan, tetapi juga kepada sesamanya.
Yang perlu kita pastikan adalah nyala kesalehan sosial itu tidak ikut padam bersama berakhirnya Ramadan. Mari kita konsistenkan hasil latihan kita untuk terus memupuk dan menebalkan solidaritas dan kesalehan sosial sehingga ritual ibadah Ramadan memiliki dampak yang besar untuk kemaslahtan umat.
Tidak berhenti di rumah rumah ibadah, tetapi juga ada aktual di lingkungan sosial dan masyarakat kita. Amin. (*)
*) Dewi Quraisyin dan Surokim As. adalah akademisi Universitas Trunodjoyo Madura (UTM).